-->

Breaking

logo

01 Maret 2022

Habib Husein Baagil Tegaskan Pro Pemerintah: Salah atau Benar Saya Bela Pemerintah, Ini Kebijakan Nabi!

Habib Husein Baagil Tegaskan Pro Pemerintah: Salah atau Benar Saya Bela Pemerintah, Ini Kebijakan Nabi!

Habib Husein Baagil Tegaskan Pro Pemerintah: Salah atau Benar Saya Bela Pemerintah, Ini Kebijakan Nabi!

DEMOCRAZY.ID - Pendakwah asal Tuban, Jawa Timur yakni Habib Husein Baagil menegaskan bahwa dirinya merupakan orang yang pro pemerintah.


Bahkan jika ada kebijakan yang benar atau pun salah dari pemerintah, maka Habib Husein Baagil akan tetap membelanya.


Hal tersebut disampaikan Habib Husein Baagil saat diundang menjadi bintang tamu di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Selasa (1/3/2022).


"Saya pro pemerintah, udah jelas, saya pro pemerintah. Salah atau benar saya bela pemerintah," tuturnya.


"Kenapa? Wong sampai dikatakan oleh Rasulullah, jika pemerintah kalian datang dengan membawa cambuk, kalian dicambuk, kalian tetap harus taat kepada pemerintah," sambungnya.


Pernyatan itu disebut oleh Habib Husein Baagilsebagai perkataan yang dilontarkan oleh Nabi Muhammad SAW.


"Ini bukan kebijakan saya, ini kebijakan Rasulullah. Kalau Anda mau mengkritisi kebijakan ini berarti Anda keluar dari Islam," paparnya.


Akan tetapi, Habib Husein Baagil menyebut bahwa sah-sah saja jika seseorang memberikan kritikan terhadap pemerintah.


Menurutnya, kritik kepada pemerintah tetap boleh disampaikan dengan cara yang baik dan benar.


Kemudian Habib Husein Baagil menceritakan kisah tentang Firaun, yang mana pada zaman itu seseorang harus tetap bersikap lembut kepada para pendosa.


"Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang menuju ke Firaun, diberikan pesan oleh Allah SWT 'Wahai Musa dan Harun, jika engkau mendatangi Firaun untuk menasihatinya, tetap dengan kata-kata yang lemah lembut. Jangan menggores perasaannya'," tuturnya.


Sontak dia mempertanyakan, figur apa yang diambil oleh sekelompok umat Islam yang mengkritik pemerintah dengan kata-kata kasar.


"Jadi kalau kita berbuat sesuatu, harus ada referensi hidup. Nggak bisa dengan kebijakan kita sendiri," tukasnya.


"Boleh mengkritisi, tetapi dengan akhlak, dengan sopan santun, dengan cara yang lemah lembut. Apalagi Presiden kita Islam, Menteri Agama kita Islam, mayoritas agama Islam, alasan kita apa, perang sama siapa? Aneh bin ajaib," ucapnya menambahkan. [Democrazy/fin]