-->

Breaking

logo

22 Maret 2022

Dukung Haris Azhar dan Fatia, Bung Hatta Award: Bahaya Demokrasi Jika Pejabat Gunakan Hukum Untuk Bungkam Kritik

Dukung Haris Azhar dan Fatia, Bung Hatta Award: Bahaya Demokrasi Jika Pejabat Gunakan Hukum Untuk Bungkam Kritik

Dukung Haris Azhar dan Fatia, Bung Hatta Award: Bahaya Demokrasi Jika Pejabat Gunakan Hukum Untuk Bungkam Kritik

DEMOCRAZY.ID - Bung Hatta Anti-Corruption Award atau BHACA memberikan dukungannya kepada Koordinator Kontras, Fatia Maulidiyanti dan Direktur Lokataru, Haris Azhar.


Fatia dan Haris Azhar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik oleh Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan.


Melalui twitter Bung Hatta AC Award di akunnya @BungHattaAward menyatakan bahwa memidanakan para aktivis yang berjuang untuk kebenaran merupakan sesuatu yang tak tepat. 


Apalagi dilakukan oleh pejabat yang memiliki korelasi dengan pengusaha. 


"Bahaya untuk demokrasi adalah ketika pejabat negara mulai menggunakan hukum untuk membungkam kritik," kata @BungHatta Award pada Senin, 21 Maret 2022.


Dikatakannya kasus ini semula berangkat dari laporan lapangan sejumlah organisasi masyarakat sipil mengenai relasi ekonomi politik pejabat dalam penempatan militer di Papua.


Dalam sebuah unggahan Youtube Haris Azhar menyebut nama Luhut Pandjaitan ada di balik penguasaan tambang emas di Blok Wabu, Intan Jaya, Papua. 


Dalam video Youtubenya, Haris Azhar mengatakan data yang ditampilkannya merupakan hasil dari laporan penelitian yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya.


Dan laporan penelitian tersebut pun dikatakannya tidak dibantah.


"Karena berbasis data empiris dan metodologi ilmiah, sebenarnya hal itu bisa dijawab dengan cara yang sama oleh pejabat yang dituju," lanjut @BungHatta Award.


"Tentu saja, publik menanti transparansi bagaimana hubungan-hubungan itu," ujarnya.


Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti yang berdialog dalam video Youtube, juga menolak permintaan maaf kepada Luhut Binsar Pandjaitan terhadap apa yang dikemukakannya. 


Haris Azhar menganggap pernyataannya hanya memaparkan hasil penelitian yang dikerjakan sembilan organisasi mengenai Blok Wabu di Intan Jaya, Papua.


Sebelumnya, Haris dan Fatia yang sempat disomasi Luhut juga mengaku telah memberikan menjelaskan maksud, tujuan, motif dan bukti keterlibatan Luhut Pandjaitan dalam bisnis tambang emas Blok Wabu di Intan Jaya, Papua.


Akan tetapi Luhut justru disebut-sebut menolak berdiskusi dengan memberikan data yang dimilikinya. [Democrazy/rkp]