-->

Breaking

logo

10 Maret 2022

Bukannya Jadi Tenang, Warga Wadas Malah Makin Waswas Usai Kembali Ditemui Ganjar Pranowo

Bukannya Jadi Tenang, Warga Wadas Malah Makin Waswas Usai Kembali Ditemui Ganjar Pranowo

Bukannya Jadi Tenang, Warga Wadas Malah Makin Waswas Usai Ditemui Ganjar Pranowo

DEMOCRAZY.ID - Warga Wadas, Purwerejo mengaku takut rencana tambang andesit untuk proyek strategi nasional (PSN) Bendungan Bener malah dilanjutkan usai adanya kunjungan dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada Rabu (9/3).


Salah satu warga, F bahkan mengaku khawatir lahan untuk penambangan itu akan diperluas.


"Warga sebenarnya itu yang paling takut adalah ketika ini tidak berhenti, atau ini tidak berhenti hanya soal di kunjungan saja. Takutnya setelah kunjungan selesai penambangan akan berlangsung, bahkan ekspansi di mana-mana," kata F, Kamis (10/3).


"Ketika tidak ada kegiatan apapun dari pihak pemerintah terkait penambangan, warga ini sebenarnya damai, kondusif. Ketika ada, kemudian resah, khawatir," imbuhnya.


F menyebut dirinya dan ratusan warga Wadas menginginkan agar rencana pembangunan tambang andesit dihentikan. Ia menyebut, pada 2018, ada 551 warga Wadas yang mengambil sikap untuk menolak penambangan andesit tersebut.


Ia berkata, ratusan itu telah mengumpulkan salinan kartu tanda penduduk sebagai tanda penolakan kepada pihak-pihak terkait. Namun, sayangnya rencana tersebut tak kunjung dihentikan.


Pada kesempatan dialog dengan Ganjar, F mengatakan warga Wadas kembali menyampaikan keberatan tersebut. Sebab, mereka merasa suaranya tak didengar.


"Kemudian masalah sikap warga yang tidak dihiraukan. Dimana warga sudah mengirimkan surat melalui pihak pemrakarsa. Surat penolakan beserta alasannya beserta lampiran fotokopi KTP warga yang menolak sekitar 511 fotokopi KTP. Itu tahun 2018. Tapi ternyata kita cek ke Gubernur, katanya tidak ada," jelas dia.


Selain itu, kata F, warga tetap menolak karena khawatir akan dampak dari penambangan andesit tersebut. 


Ia menyebut warga takut desanya menjadi rusak dan sumber penghidupan pun hilang.


"Kita lebih takut ke keberlangsungan desa. Ketika di tambang, atau pasca di tambang. Artinya warga menyampaikan kekhawatiran bahwa ini sudah dieksploitasi," ucapnya.


Sebelumnya, Desa Wadas dikepung oleh ratusan sampai ribuan polisi. 


Penurunan aparat dalam jumlah massiv itu diklaim untuk mengamankan pengukuran tanah penambangan andesit.


Komnas HAM dalam hasil penyelidikannya menemukan ada penggunaan kekuatan berlebihan kepada warga Wadas. 


Selain itu, anak-anak desa Wadas juga turut terlibat menyaksikan dan mengalami tindakan excessive aparat kepolisian.


Sementara itu, Ganjar sudah mendatangi Wadas pada Minggu (13/2). 


Kedatangannya itu disambut dengan nyanyian warga mendesak pencabutan Izin Penetapan Lokasi (IPL).


Setelah kedatangannya itu, Ganjar kembali mengatakan akan mendatangi lagi Wadas dan berencana menginap. 


Ia mengklaim akan melakukan dialog dengan Warga Wadas. [Democrazy/cnn]