Inikah Isi Ceramah Pengajar Ponpes As-Sunnah yang Pancing Kemarahan Masyarakat Lombok Timur? | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Minggu, 02 Januari 2022

Inikah Isi Ceramah Pengajar Ponpes As-Sunnah yang Pancing Kemarahan Masyarakat Lombok Timur?

Inikah Isi Ceramah Pengajar Ponpes As-Sunnah yang Pancing Kemarahan Masyarakat Lombok Timur?

Inikah Isi Ceramah Pengajar Ponpes As-Sunnah yang Pancing Kemarahan Masyarakat Lombok Timur?

DEMOCRAZY.ID - Penyerangan Ponpes As-Sunnah pada Minggu (2/1/2022) dini hari diduga dipicu potongan video pengajar ponpes tersebut yang membuat masyarakat terpancing.


Pasalnya, sehari sebelumnya, pada Sabtu (1/1/2022), beredar potongan video pengajar Ponpes As-Sunnah, Ustadz Mizan Qudsiah.


Dalam potongan video berdurasi 19 detik itu, masyarakat diduga tak terima dengan caramah yang dianggap melecehkan sejumlah makam leluhur Lombok.


“…Makam Selaparang, Bintaro, Sekarbela, Loang Baloq, Ali Batu, Batu Layar, kuburan tain acong, keramat tain acong…,” ucap Ustadz Mizan Qudsiah dalam video tersebut.


Berdasarkan penelusuran, video itu diambil dari pengajian yang ditayangkan secara streaming setahun lalu.


Video itu disiarkan live melalui kanal Youtube Surabaya Mengaji dengan judul ‘Wisata Religi Ke Kuburan – Ustad Mizan Qudsiah, MA’.


Sementara ucapan yang dipotong tepat ada pada menit ke 30.50.


Terkait hal itu, Ustadz Mizan Qudsiah memberikan klarifikasinya melalui kanal Youtube MQH TV.


“Kita niki sedang mendapat ujian dan difitnah, sedang ramai sekarang niki. Maka perlu kita klarifikasi kepada seluruh jamaah masyarakat Lombok, NTB,” tuturnya.


Disebutkan bahwa itu merupakan pemotongan video pengajian di Dasan Banten pada 2020 lalu.


“Ketika kita menyebutkan, dulu kita ziarah ke beberapa kuburan dan makam, lalu kita sebut salah satunya disebut yaitu tentang ada salah satu makam yang namanya apa kan aneh kita dengar. Itu yang dipotong,” kata dia.


Potongan video itu pula yang disebutnya kemudian memancing kerancuan dan keributan di tengah masyarakat.


“Kemudian yang kedua, ketika menyebutkan nama makam tersebut itu bukan dari tiang, tetapi itu menukil perkataan TGH Mahsun rahimahullah ta’ala yang dari Belencong,” sambungnya.


Ia menyatakan sama sekali tak bermaksud menghina atau melecehkan makam leluhur Lombok.


“Ini kita menyebut perbuatan dahulu, kemudian kita menukil ucapan, membawakan ucapan orang alim. Maka ini kita perlu kita ingatkan, perlu kita klarifikasi kepada seluruh kaum muslimin,” jelasnya.


Dia menyatakan bahwa potongan video itu pula yang akhirnya memicu kemarahan masyarakat.


“Wajar mereka marah, karena yang dipotong itu seolah-olah kita menjelekkan. Padahal kita menyebut peristiwa,” kata dia lagi.


Kendati demikian, dirinya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Lombok.


“Mudah-mudahan apa yang kita sampaikan ini dimaklumi dan kita minta maaf sekiranya memang ada tutur kata yang salah karena kita tidak lepas dari kesalahan,”


“Tidak ada niat sama sekali untuk mau menghinakan,” tandasnya. [Democrazy/pojok]