Dilaporkan ke KPK, Gibran Bilang 'Tangkap Sekarang Aja Gpp', Lalu Memilih Ngeloyor Pergi | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Selasa, 11 Januari 2022

Dilaporkan ke KPK, Gibran Bilang 'Tangkap Sekarang Aja Gpp', Lalu Memilih Ngeloyor Pergi

Dilaporkan ke KPK, Gibran Bilang 'Tangkap Sekarang Aja Gpp', Lalu Memilih Ngeloyor Pergi

Dilaporkan ke KPK, Gibran Bilang 'Tangkap Sekarang Aja Gpp', Lalu Memilih Ngeloyor Pergi

DEMOCRAZY.ID - Sehari setelah dilaporkan ke KPK, Gibran Rakabuming masih diminta komentarnya. 


Kalau saat pertama masih bernada tenang, kali ini nada suara Wali Kota Surakarta tersebut agak menahan kesal.


"Dilaporkan saja, buktikan, wong ditangkap sekarang, tangkap sekarang aja gpp," kata Gibran di Balai Kota Pemkot Surakarta, Selasa 11 Januari.


"Laporannya wes masuk toh, dibuktikan saja, aku salah wes cekelen aku," lanjut dia.


Dua anak Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep memang dilaporkan dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang juga aktivis '98, Ubedilah Badrun ke komisi antirasuah. 


Tuduhannya enggak main-main. Keduanya diduga melakukan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).


"Laporan ini terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang (TPPU) berkaitan dengan dugaan KKN relasi bisnis anak presiden dengan grup bisnis yang diduga terlibat pembakaran hutan," kata Ubedilah kepada wartawan, Senin, 10 Januari.


Kasusnya, berawal dari 2015. Saat itu, ada perusahaan besar bernama PT SM yang sudah jadi tersangka pembakaran hutan dan sudah dituntut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dengan nilai Rp 7,9 triliun.


Hanya saja, Mahkamah Agung (MA) hanya mengabulkan tuntutan sebesar Rp78 miliar. 


Ubedilah menyebut hal ini terjadi setelah anak Presiden Jokowi itu membuat perusahaan gabungan dengan anak petinggi perusahaan PT SM pada Februari 2019 lalu.


Bagi Ubedilah, dugaan korupsi, kolusi dan nepotisme tersebut sangat jelas melibatkan Gibran, Kaesang, dan anak petinggi PT SM karena adanya suntikan dana penyertaan modal dari perusahaan Ventura.


"Dua kali diberikan kucuran dana. Angkanya kurang lebih Rp 99,3 miliar dalam waktu yang dekat. Dan setelah itu kemudian anak presiden membeli saham di sebuah perusahaan yang angkanya juga cukup fantastis Rp 92 miliar,” ujar Ubedilah.


"Dan itu bagi kami tanda tanya besar, apakah seorang anak muda yang baru mendirikan perusahaan dengan mudah mendapatkan penyertaan modal dengan angka yang cukup fantastis kalau dia bukan anak presiden," imbuhnya. [Democrazy/voi]