Tingkat Kepuasan Sangat Rendah, Pengamat Beberkan Rakyat Minang Dendam Kesumat ke Jokowi Gegara Tiga Hal Ini | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Selasa, 28 Desember 2021

Tingkat Kepuasan Sangat Rendah, Pengamat Beberkan Rakyat Minang Dendam Kesumat ke Jokowi Gegara Tiga Hal Ini

Tingkat Kepuasan Sangat Rendah, Pengamat Beberkan Rakyat Minang Dendam Kesumat ke Jokowi Gegara Tiga Hal Ini

Tingkat Kepuasan Sangat Rendah, Pengamat Beberkan Rakyat Minang Dendam Kesumat ke Jokowi Gegara Tiga Hal Ini

DEMOCRAZY.ID - Popularitas Jokowi di mata orang Minang ternyata rendah. 


Dalam survei terbaru yang dirilis SMRC, disebutkan bahwa hanya 19 persen warga Minang menyatakan puas dengan kinerja Presiden Jokowi.


Angka ini jauh berbeda dengan angka-angka suku lainnya. Sebut saja 78 persen warga jawa puas, 84 persen warga Batak puas, 65 persen warga Sunda puas, 63 persen warga Betawi puas, dan 58 persen warga Madura puas dengan kinerja Jokowi.


Jika Minang rendah, dalam survei Desember tersebut, warga Indonesia yang merasa sangat atau cukup puas dengan kerja Presiden Jokowi adalah 71,7 persen. Ini adalah angka yang sangat impresif.


Lalu, apabila suku-suku lain puas dengan Jokowi, kenapa kalangan warga Sumatera Barat angkanya bisa serendah itu?


Terkait hal ini, pegiat media sosial Ade Armando coba mengurainya. 


“Saya sendiri adalah orang keturunan Minang, namun terus terang, saya sama sekali tidak paham dengan perilaku orang-orang Minang ini. Apa sih yang dilakukan Jokowi terhadap orang-orang Sumatera Barat, sehingga mereka sedemikian membenci sang Presiden,” kata dia disitat dalam saluran Youtube Cokro TV, Selasa 28 Desember 2021.


Dia kemudian memaparkan, data pemilihan presiden 2014, dan 2019 menunjukkan, sebenarnya sudah memberi indikasi bahwa orang Minang tidak suka dengan Jokowi.


Pada 2014, hanya 23 persen warga Sumatera Barat yang memilih pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. 


Lima tahun kemudian, angka itu bahkan merosot drastis, pada tahun 2019, hanya 14 persen warga yang memilih pasangan Jokowi-Maruf.


“Tapi itu kan seharusnya cuma hasil Pilpres, mayoritas warga Sumatera Barat lebih suka dengan Prabowo karena adanya kedekatan dengan sejarah daerah itu,” katanya.


Dan setelah Pilpres selesai, kata dia, bukankah seharusnya masyarakat menilai secara objektif. 


“Karena itu saya bertanya, apa sih salah Jokowi pada orang Minang. Jokowi justru sangat peduli pada orang Sumatera Barat,” katanya.


Tiga Sebab Orang Minang Benci Jokowi


Pada kesempatan itu, Ade Armando lantas mengurai bahwa Sumatera Barat sebenarnya adalah daerah yang paling banyak dikunjungi Jokowi selama kepemimpinannya di 2014-2019. 


Jokowi juga mewujudkan berbagai pembangunan infrastruktur di daerah itu.


Dengan kata lain, Jokowi tidak pernah menganaktirikan Minang. Lantas kenapa orang Minang begitu membenci dia. Kata dia, setidaknya ada tiga penyebab.


Pertama, yakni Jokowi didukung PDIP yang merupakan penjelmaan baru dari PNI di bawah Soekarno. 


Masalahnya masyarakat Sumatera Barat hingga kini dinilai masih memiliki dendam atas apa yang dilakukan Presiden Soekarno di era Demokrasi Terpimpin.


Soekarno dianggap sebagai pemimpin Jawa yang menindas Sumatera Barat. 


Penindasan inilah yang kemudian melahirkan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat yang kemudian dihabisi secara brutal oleh pasukan militer dari Jawa.


“Jadi orang Minang membenci Jokowi bukan karena dia jahat dan buruk. Tetapi dia dipercaya sebagai orang suruhan Megawati yang adalah anak Soekarno, yang dianggap musuh bebuyutan Sumatera Barat,” katanya.


Tentu saja hal itu, kata Ade, merupakan pandangan berlebihan. 


Karena tidak ada hubungannya antara Jokowi dengan sesuatu yang dianggap kejahatan Soekarno ke Sumatera Barat.


Faktor kedua, adalah ada anggapan bahwa Jokowi berasal dari PDIP yang merupakan bentukan Partai Kristen dan Komunis. Soal Komunis, kata Ade, jelas mengada-ada.


Tapi soal Kristen, tentu saja itu tidak sepenuhnya salah. Sebab PDIP adalah partai yang terbentuk pada 1973 dan merupakan penggabungan PNI, Partai Murba, IPKI, Partai Kristen Indonesia dan Partai Katolik.


Masalahnya kalaulah memang ada elemen Kristen-Katolik di dalam PDIP, lantas mengapa? 


“Apakah orang Minang sedemikian terbelakang sehingga membenci umat Kristen dan Katolik. Apakah orang Minang memang rasis.”


Dan rasisme inilah yang menyebabkan mereka menjadi AntiJokowi.


Basis PKS


Ketiga, yang terkait dengan penjelasan kedua adalah soal menguatnya kaum Islamis radikal di Sumatera Barat.


Saat ini Sumatera Barat adalah salah satu basis suara PKS. Sudah dua periode Gubernur Sumbar dipegang oleh PKS. 


Dengan demikian, kebencian terhadap Jokowi ini terjadi, bisa karena kader-kader PKS memanas-manasi orang Minang untuk membenci Jokowi.


Jokowi digambarkan sebagai anti syariah, sementara Sumatera Barat tengah berusaha meniru jejak Aceh sebagai provinsi yang menegakkan syariah.


“Jokowi digambarkan sebagai orang Islam abangan, yang sebenarnya tidak peduli dengan orang Islam dan dikelilingi oleh orang-orang Liberal anti-Islam. Manakah penjelasan paling benar, Mungkin tidak ketiga-tiganya. Tapi mungkin juga ketiganya sekaligus,” katanya.


Ade sendiri mengaku tidak tahu persis mana yang paling logis. 


Yang jelas, katanya, dia hingga kini tak paham kenapa mereka bisa sedemikian membenci Jokowi. [Democrazy/hops]