-->

Breaking

logo

28 Desember 2021

Singgung Orang Minang, Ade Armando: Mereka Benci Jokowi dan Kristen!

Singgung Orang Minang, Ade Armando: Mereka Benci Jokowi dan Kristen!

Singgung Orang Minang, Ade Armando: Mereka Benci Jokowi dan Kristen!

DEMOCRAZY.ID - Pegiat media sosial, Ade Armando mengungkapkan bahwa orang Minang benci dengan Presiden Jokowi. 


Hal itu ia lontarkan menanggapi survei dari SMRC yang menyebut hanya 19 persen warga suku di Sumatera Barat itu yang puas dengan kinerja Jokowi. 


Terkait hal itu, Ade Armando pun yang juga merupakan orang Minang mengaku heran mengapa masyarakat suku tersebut benci Jokowi. 


Hal itu diungkapkan Ade Armando lewat videonya yang tayang di kanal YouTube Cokro TV, seperti dilihat pada Selasa 28 Desember 2021.


“Saya sendiri adalah orang keturunan Minang, namun terus terang, saya sama sekali tidak paham dengan perilaku orang-orang Minang ini. Apa sih yang dilakukan Jokowi terhadap orang-orang Sumatera Barat, sehingga mereka sedemikian membenci sang Presiden,” ujar Ade Armando. 


Ade pun membeberkan, data pemilihan presiden 2014 dan 2019 menunjukkan bahwa sebenarnya sudah memberi indikasi bahwa orang Minang tidak suka dengan Jokowi.


Menurutnya, pada 2014 hanya 23 persen warga Sumatera Barat yang memilih pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. 


Lima tahun kemudian yakni pada 2019, kata Ade, angka itu bahkan merosot drastis yakni hanya 14 persen warga yang memilih pasangan Jokowi-Maruf. 


“Tapi itu kan seharusnya cuma hasil Pilpres, mayoritas warga Sumatera Barat lebih suka dengan Prabowo karena adanya kedekatan dengan sejarah daerah itu,” tandasnya.


Namun, setelah Pilpres selesai menurut Ade Armando bukankah seharusnya masyarakat Minang menilai secara objektif soal sosok Jokowi. 


“Karena itu saya bertanya, apa sih salah Jokowi pada orang Minang. Jokowi justru sangat peduli pada orang Sumatera Barat,” tuturnya. 


Ia pun lantas mengurai bahwa Sumatera Barat sebenarnya adalah daerah yang paling banyak dikunjungi Jokowi selama kepemimpinannya di 2014-2019. 


Selain itu, menurut Ade, Jokowi juga mewujudkan berbagai pembangunan infrastruktur di daerah itu. 


Dengan kata lain, Jokowi tidak pernah menganaktirikan Minang. 


Lalu mengapa orang Minang begitu membenci Jokowi? 


Ade Armando pun membeberkan tiga penyebab terkait hal itu. 


Penyebab pertama menurut Ade Armando yakni lantaran masyarakat Sumatera Barat masih memiliki dendam atas apa yang dilakukan Presiden Soekarno di era Demokrasi Terpimpin. 


Menurut Ade, Soekarno dianggap sebagai pemimpin Jawa yang menindas Sumatera Barat. 


Penindasan inilah yang kemudian melahirkan pemberontakan PRRI di Sumbar yang kemudian dihabisi secara brutal oleh pasukan militer dari Jawa. 


“Jadi orang Minang membenci Jokowi bukan karena dia jahat dan buruk. Tetapi dia dipercaya sebagai orang suruhan Megawati yang adalah anak Soekarno, yang dianggap musuh bebuyutan Sumatera Barat,” ungkapnya. 


Sementara faktor kedua, lanjut Ade, yakni karena adanya anggapan bahwa Jokowi berasal dari PDIP yang merupakan bentukan Partai Kristen dan Komunis. Menurutnya, hal itu tentu saja mengada-ada. 


“Masalahnya kalaulah memang ada elemen Kristen-Katolik di dalam PDIP, lantas mengapa? Apakah orang Minang sedemikian terbelakang sehingga membenci umat Kristen dan Katolik. Apakah orang Minang memang rasis,” kata Ade 


Armando. Adapun penyebab ketiga menurut Ade Armando, yakni terkait menguatnya kaum Islamis radikal di Sumatera Barat di mana saat ini Sumbar merupakan salah satu basis suara PKS. 


Sudah dua periode Gubernur Sumbar dipegang oleh PKS. Maka dari itu, Ade Armando beranggapan orang Minang benci Jokowi lantaran kader-kader PKS kerap memanas-manasi mereka. 


Presiden digambarkan sebagai anti syariah, sementara Sumatera Barat tengah berusaha meniru jejak Aceh sebagai provinsi yang menegakkan syariah. 


“Jokowi digambarkan sebagai orang Islam abangan, yang sebenarnya tidak peduli dengan orang Islam dan dikelilingi oleh orang-orang Liberal anti-Islam. Manakah penjelasan paling benar, Mungkin tidak ketiga-tiganya. Tapi mungkin juga ketiganya sekaligus,” ujarnya. [Democrazy/terkini]