-->

Breaking

logo

04 Desember 2021

Kritik Aksi Risma Paksa Tunarungu Bicara, Pejuang Kesetaraan Disabilitas: Tindakan Merendahkan Martabat!

Kritik Aksi Risma Paksa Tunarungu Bicara, Pejuang Kesetaraan Disabilitas: Tindakan Merendahkan Martabat!

Kritik Aksi Risma Paksa Tunarungu Bicara, Pejuang Kesetaraan Disabilitas: Tindakan Merendahkan Martabat!

DEMOCRAZY.ID - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini masih terus menjadi sorotan publik usai aksinya ‘memaksa’ tunarungu bicara viral di media sosial.


Aksi Mensos Risma yang memaksa penyandang disabilitas tunarungu berbicara ini menuai kritik dari sejumlah pihak, salah satunya dari pejuang kesetaraan  bagi disabilitas, Cucu Saidah.


Cucu Saidah mengatakan bahwa aksi yang dilakukan Mensos Risma saat memaksa penyandang tunarungu berbicara adalah tindakan yang tidak pantas.


Ia bahkan menyebut bahwa tindakan Mensos Risma tersebut telah merendahkan martabat para penyandang disabilitas.


“Yang dilakukan oleh ibu Mensos kemarin itu adalah salah satu tindakan yang merendahkan martabat penyandang disabilitas,” kata Cucu Saidah seperti dikutip dari Youtube tvOneNews.


Cucu Saidah juga menyayangkan sikap Mensos Risma yang memaksa penyandang disabilitas tunarungu untuk berbicara.


Karena menurutnya, penyandang disabilitas memiliki cara berbeda untuk berkomunikasi dan tidak bisa dipaksa sama dengan yang lain.


“Ada cara yang berbeda, setiap orang memiliki preferensinya untuk berkomunikasi, ada yang menggunakan bahasa isyarat, tulisan, atau lukisan,” jelas Cucu Saidah.


“Kita melihat ini sebagai potret buram juga ketika seorang pemimpin dimana pada saat ini penyandang disabilitas seolah menjadi fokus di Kemensos, dan ini memberikan contoh yang tidak baik,” sambungnya.


Seperti diketahui sebelumnya, Mensos Risma menuai banyak kritik dari masyarakat usai memaksa tunarungu berbicara.


Menanggapi adanya banyak kritik tersebut, Mensos Risma juga sempat menyampaikan klarifikasi terkait tindakannya yang memaksa tunarungu untuk berbicara.


Risma mengatakan bahwa aksinya tersebut dilakukan hanya untuk mengetahui apakah alat bantu dengar yang diberikannya bisa berfungsi dengan baik. Salah satu caranya yakni dengan mengajak penyandang disabilitas tersebut bicara.


“Saya hanya pengen tahu apakah alat bantu dengar bisa berfungsi dengan baik,” kata Risma.


Mensos Risma juga mengatakan bahwa ia hanya ingin mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas. Ia mengaku tidak ada niat memaksa anak tersebut berbicara.


Karena menurutnya, paling tidak penyandang tunarungu harus bisa mengucapkan kata ‘tolong’ untuk bisa melindungi dirinya sendiri jika dalam bahaya. Inilah yang juga membuat Mensos Risma berharap para tunarungu bisa melatih kemampuan berbicara. [Democrazy/kabes]