Kisah Pilu Remaja Jadi Korban Hoaks, Dieks*kusi Mati di Usia 14 Tahun | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Senin, 27 Desember 2021

Kisah Pilu Remaja Jadi Korban Hoaks, Dieks*kusi Mati di Usia 14 Tahun

Kisah Pilu Remaja Jadi Korban Hoaks, Dieks*kusi Mati di Usia 14 Tahun

Kisah Pilu Remaja Jadi Korban Hoaks, Dieks*kusi Mati di Usia 14 Tahun

DEMOCRAZY.ID - George Stinney Jr sudah lama tewas, sejak 1944 silam, karena fitnah. Bocah kulit hitam yang kala itu berusia 14 tahun menjadi orang termuda di dunia yang dieksekusi mati dalam sejarah Amerika Serikat.


Dia divonis hukuman mati dengan kursi listrik atas tuduhan pembunuhan terhadap 2 gadis kulit putih di sebuah kota di Carolina bagian selatan. 


Namun setelah 70 tahun, baru terungkap kalau Stinney menjadi korban hoaks atas tuduhan yang diarahkan kepadanya.


Pada Maret 1944, Betty June Binnicker yang berusia 11 tahun dan Mary Emma Thames, 8 tahun, dinyatakan hilang. 


Ayah Stinney yang menjadi bagian dari tim pencari, menemukan mayat kedua gadis itu beberapa jam kemudian di sebuah parit. Keduanya ditemukan dengan luka pukulan dikepalanya.


Menurut keterangan yang beredar, Stinney bersama saudara perempuannya, Amie Ruffer merupakan orang terakhir yang melihat kedua gadis itu saat berada di sebuah ladang dekat kota Alcolu.


Namun, entah mengapa, polisi lebih mengarahkan perhatian mereka kepada Stinney. Ia pun langsung ditangkap tanpa adanya bukti dan saksi lebih lanjut. 


Bahkan, ia dijauhkan dari orangtua dan penasihat hukumnya ketika diinterogasi pihak berwenang.


Beberapa orang mengatakan, Stinney terlihat sangat ketakutan sehingga ia terpaksa untuk mengatakan seperti apa yang diinginkan polisi, meskipun tidak ada bukti yang mengarahkannya kepada tindak kejahatan tersebut.


Setelah dua jam persidangan dan pertimbangan selama 10 menit, Stinney dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman mati dengan menggunakan kursi listrik.


Pengadilan memutuskan untuk mengeksekusi Stinney dalam waktu sekitar tiga bulan. 


Sempat ada perdebatan terkait hasil ini, terutama tentang Stinney yang masih terlalu kecil


Selain karena elektroda terlalu besar untuk kakinya, tali pengikat juga tidak pas dengan tubuhnya sehingga Stinney harus duduk di atas alkitab agar sesuai dengan kursinya.


Namun, keraguan tersebut diabaikan dan pada 16 Juni 1944, Stinney tetap dieksekusi.


Kasus ini membuat marah para pembela hak-hak sipil. Stinney di interogasi sendirian di sebuah ruangan kecil, tanpa didampingi oleh orangtua maupun pengacaranya.


Saat itu, polisi mengatakan bahwa Stinney mengaku telah membunuh keduanya karena Binnicker menolak untuk berhubungan badan dengannya.


Beberapa tahun setelahnya, sejarawan George Frierson mulai mempelajari kasus ini.


Ia juga menemui mantan teman satu sel Stinney, Wilfor Hunter. Hunter mengatakan bahwa Stinney membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya.


Pada tahun 2009, Matt Burgess, seorang pengacara berencana untuk mengajukan laporan dari anggota keluarga Stinney.


Keluarga Stinney akhirnya berani bersuara dan mengatakan bahwa pengakuan Stinney karena dipaksa.


Ruffer yang bersamanya saat kejadian melihat bahwa gadis tersebut sedang menaiki sepeda di dekat rel kereta api dekat rumahnya. Selama ini mereka berdiam karena mereka ketakutan.


Permintaan persidangan baru didasarkan pada sejumlah bukti, termasuk pernyataan di bawah sumpah 2 saudara sedarah George Stinney yang menyatakan mereka bersama terpidana pada hari ketika gadis-gadis itu tewas.


Sementara, catatatan pengakuan Stinney dan informasi lain yang digunakan untuk membelanya di pengadilan yang digelar sehari pada tahun 1944, menghilang. Juga transkrip persidangan kala itu, yang tersisa hanya catatan tangan yang tak lagi jelas.


Intinya, permohonan persidangan kembali didasarkan pada bukti yang menunjukkan Stinney yang kala itu berbobot 43 kilogram, tak mungkin membunuh 2 korban dan menyeretnya ke parit.


Juga didasarkan pada pengakuan seorang pria kulit putih sekarat beberapa tahun lalu, dan kemungkinan bahwa Stinney mengaku karena keluarganya diancam.


Mengutip Washington Post, tepat 70 tahun setelah dieksekusi mati, akhirnya terbukti bahwa George tidak bersalah. 


Ia menjadi korban fitnah atas tuduhan pembunuhan yang menyeretnya ke pengadilan.


Keputusan pengadilan di Carolina Selatan yang akhirnya menyatakan bahwa George Stinney Jr tak bersalah disambut gembira pihak keluarga dan para aktivis hak-hak sipil yang memperjuangkan hal ini selama bertahun-tahun. Sayangnya, pengakuan ini datang terlambat.


Jika pengakuan ini datang 70 tahun lalu, George mungkin masih hidup dan berusia 84 tahun saat ini.


Pada usia 14 tahun, Stinney adalah terpidana termuda di AS yang dieksekusi dalam 100 tahun terakhir, menurut statistik yang dikumpulkan oleh Death Penalty Information Center.


Namun, mengeksekusi remaja juga pernah dilakukan saat itu. Florida mengeksekusi mati pemuda berusia 16 tahun dalam kasus pemerkosaan pada 1944. 


Sementara, Mississippi, Nevada, Ohio, dan Texas masing-masing mengeksekusi pemuda 17 tahun dalam kasus beragam. [Democrazy/kmpr]