-->

Breaking

logo

13 Desember 2021

Di Depan MUI, Jusuf Kalla Blak-Blakan Ajak Umat Islam Belajar Wirausaha dengan Orang China

Di Depan MUI, Jusuf Kalla Blak-Blakan Ajak Umat Islam Belajar Wirausaha dengan Orang China

Di Depan MUI, Jusuf Kalla Blak-Blakan Ajak Umat Islam Belajar Wirausaha dengan Orang China

DEMOCRAZY.ID - Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), blak-blakan mengimbau umat Islam di Indonesia perlu belajar dari warga keturunan Cina untuk mendukung kebangkitkan wirausaha. 


Hal itu disampaikan JK dalam Kongres Ekonomi Umat 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat yang bertemakan “Arus Baru Penguatan Ekonomi Indonesia” di Jakarta, Sabtu 11 Desember 2021. 


Mulanya, JK mengatakan bahwa MUI perlu mendorong adanya kebangkitan perekonomian umat Islam di Indonesia.


“Dari pertemuan ini MUI perlu mendorong pentingnya jadi pengusaha. Sebab tanpa pengusaha maka ekonomi nasional bisa pincang,” kata Jusuf Kalla, yang didampingi oleh Chaerul Tanjung. 


Di hadapan peserta Kongres Ekonomi Umat, JK membeberkan bahwa situasi pengembangan pengusaha ekonomi umat yang makin memprihatinkan. 


Sebab, saat ini jumlah pengusaha pribumi semakin sedikit.


“Saya sering katakan diantara 10 orang kaya di Indonesia, hanya 1 orang Islam (Pak Chaerul Tanjung). Kalau dihitung 100 besar, ternyata hanya 8 umat islam. Tentu saja ada yang salah juga di internal kita dengan kondisi ini,” sambungnya. 


Oleh karena itu, JK menilai bahwa umat Islam perlu belajar banyak dari warga keturunan Cina. 


Pasalnya, mereka selalu menanamkan semangat berusaha dan mengembangkan jiwa wirausaha kepada anak-anaknya. 


“Orang cina bisa lebih maju, karena mereka mempunyai deret ukur. Satu keluarga punya lima anak, seorang bapak belikan masing-masing satu toko. Jadi lima toko. Jadi pengusahanya bertambah jadi lima,” tutur JK.


“Berbeda dengan kita, kadang-kadang satu keluarga, anak-anaknya ingin jadi polisi, tentara, bupati. Jadinya jumlah pengusaha kita tambah sedikit,” imbuhnya. 


Lebih lanjut, JK pun mengusulkan agar MUI mendorong adanya dakwah soal muamalah. Bukan hanya sekedar aqidah, akhlak dan lainnya. 


Menurutnya, dakwah tentang muamalah juga bisa dikaitkan dengan pentingnya mendorong semangat untuk berwirausaha. [Democrazy/terkini]