-->

Breaking

logo

23 Desember 2021

China Bangun 'Hutan Antena' di Laut China Selatan, Ada Apa Nih?

China Bangun 'Hutan Antena' di Laut China Selatan, Ada Apa Nih?

China Bangun 'Hutan Antena' di Laut China Selatan, Ada Apa Nih?

DEMOCRAZY.ID - Sebuah foto satelit menunjukkan 'hutan antena' milik China bermunculan di sekitar Laut China Selatan (LCS). 


Antena itu disebut-sebut sebagai media Beijing untuk menguasai spektrum elektronik di wilayah perairan itu.


Dalam sebuah laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS), antena itu disebar di wilayah Mumian yang terletak di Pulau Hainan. 


Antena itu juga diidentifkasi dapat menarik sinyal-sinyal armada perang asing yang beroperasi di sekitar LCS.


"Beijing mengambil langkah besar untuk meningkatkan peperangan elektronik, komunikasi, dan kemampuan pengumpulan intelijennya di dekat LCS," tulis lembaga itu dikutip dari New York Post, Kamis, (23/12/2021).


Tak hanya di Mumian, CSIS juga melaporkan bahwa Negeri Tirai Bambu juga memiliki sarana serupa di wilayah di Subi dan Fiery Cross Reefs yang disengketakan. 


Mereka juga memasang jaringan menara sensor antara Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel.


"Mereka ditempatkan secara ideal untuk mendeteksi, memantau, dan mengganggu aktivitas elektronik apa pun di wilayah tersebut. Dan itu berarti peralatan vital mungkin tidak berfungsi seperti yang diharapkan," sebut lembaga itu.


"Drone bisa diretas. Sinyal navigasi bisa terdistorsi. Datalink bisa dibajak."


CSIS menyebut bahwa hal ini pernah terjadi sebelumnya. Pada 2018 lalu sebuah laporan berita China mengklaim sebuah pesawat tempur AS "kehilangan kendali" saat terbang di LCS.


Laporan itu merujuk pada insiden 2018. di mana pesawat EA-18G Growler Angkatan Laut AS dari kapal induk USS Theodore Roosevelt mengalami gangguan di luar kendali.


"Pesawat-pesawat tempur benar-benar di luar kendali dan tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar, tetapi mereka tidak tahu apa yang terjadi," sebut laporan itu lagi.


China sendiri masih sangat agresif dalam menempatkan patok negaranya di wilayah LCS. 


Bahkan Beijing mengklaim atas sekitar 90% wilayah perairan itu dalam sebuah klaim yang dikenal sebagai sembilan garis putus-putus.


Klaim teritorial sepihak tersebut tumpang tindih dengan beberapa negara ASEAN dan Taiwan. 


Selain dengan China, LCS sendiri berbatasan dengan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.


Laporan Brooking Institution baru-baru ini juga memperingatkan hal sama. Ini kemudian dikaitkan dengan kesiapan China melakukan perang di masa depan.


"Perang di masa depan tidak hanya tentang ledakan, tetapi juga tentang melumpuhkan sistem yang membuat tentara berjalan," laboran itu memperingatkan.


"Kita bisa melihat dampaknya ... seperti membuat tank tidak mungkin untuk dinyalakan atau secanggih penargetan ulang rudal di udara."


China sendiri belum mengomentari laporan ini. [Democrazy/cnbc]