Calon Dosen Bongkar Dugaan Manipulasi Nilai Seleksi CPNS 2021 | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Senin, 27 Desember 2021

Calon Dosen Bongkar Dugaan Manipulasi Nilai Seleksi CPNS 2021

Calon Dosen Bongkar Dugaan Manipulasi Nilai Seleksi CPNS 2021

Calon Dosen Bongkar Dugaan Manipulasi Nilai Seleksi CPNS 2021

DEMOCRAZY.ID - Seorang peserta seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) membongkar dugaan manipulasi nilai seleksi CPNS 2021.


Peserta yang melamar sebagai dosen PNS ini membagikan statistik nilai seleksi CPNS 2021 yang diduga dimanipulasi di akun Twitter @alhrkn.


Ia membandingkan nilai seleksi kompetensi bidang (SKB) tertulis menggunakan komputer (CBT) dengan SKB wawancara dan micro teaching atau simulasi mengajar.


SKB CBT serta SKB wawancara dan micro teaching merupakan tahap akhir dari seleksi CPNS 2021.


Peserta yang lolos ke tahap akhir rata-rata tenaga pengajar kampus yang belum berstatus sebagai PNS atau ASN.


Nilai SKB CBT para tenaga pengajar kampus rata-rata rendah. Namun nilai mereka sangat tinggi pada SKB wawancara dan micro teaching.


Nilai SKB wawancara dan micro teaching diduga dimanipulasi oleh pihak kampus. Mereka diberikan nilai tinggi, sedangkan peserta dari luar kampus diberi nilai sangat rendah.


“Nilai kami lain dijatuhkan habis-habisan di wawancara & micro teaching, sementara nilai peserta dari internal kampus didongkrak bukan main,” tulis @alhrkn, Senin (27/12).


Ia menceritakan kronologi ikut seleksi CPNS dosen di perguruan tinggi negeri (PTN) yang tahapannya dimulai pada Juli 2021.


“Saya adalah salah satu peserta. Saya melamar posisi Dosen Asisten Ahli (Kualifikasi S2) di salah satu PTN,” tulisnya.


Lulusan S2 ini mengikuti administrasi, kemampuan dasar, dan kemampuan bidang.


“Di jurusan yang saya lamar sedang membuka 6 posisi: 5 orang dari jalur umum, 1 orang dari jalur cum laude,” ucapnya.


Pada 11 Agustus, dia dinyatakan lolos seleksi administrasi dan maju ke tahap selanjutnya, yakni Seleksi Kompetensi Dasar (SKD).


Pada 4 Oktober, dia mengikuti SKD di Jakarta. Kemudian pada 14 November dinyatakan lolos SKD lanjut ke tahap berikutnya, yakni SKB dari jalur Cum Laude.


Menurutnya, rasio peserta Ujian SKB adalah 3x jumlah posisi yang dibuka, sehingga ada 15 yang maju ke SKB dari Jalur Umum.


Sedangkan Jalur Cum Laude seharusnya ada tiga orang, namun yang lolos sampai ke tahap SKB hanya satu orang.


“Ternyata saya jadi peserta tunggal yang maju ke SKB dari Jalur Cum Laude. Saya pun mengikuti semua proses ujian sesuai dengan jadwal & prosedur,” imbuhnya.


Ia pun mengikuti ujian SKB tertulis menggunakan komputer (CBT) pada 4 Desember. Selanjutnya mengikuti SKB wawancara dan micro teaching pada 8 Desember.


Anehnya, seorang peserta dari internal kampus, sebut saja Santa (nama samaran) tiba-tiba beralih dari jalur umum ke jalur Cum Laude.


Pada 25 Desember, keluar skor akhir yang disebutnya sangat aneh.


“Nilai saya dijatuhkan habis-habisan di wawancara & micro teaching hingga saya dinyatakan gagal dan tidak memenuhi syarat,” bebernya.


“Padahal saya mengungguli si Santa ini di hampir semua ujian sebelumnya. Tri Dharma, Bahasa Inggris, Penalaran, Psikologi, Intelegensi, Kepribadian; semua unggul, karena ujian via komputer sulit dicurangi,” katanya.


“Tapi di wawancara dan simulasi mengajar nilai saya diatuhkan,” katanya lagi.


Setelah ditelusuri, kata dia, ternyata Santa ini sudah berstatus dosen di jurusan yang dilamar. Tapi dia bukan PNS.


Ia menduga si penguji (petinggi di jurusan si Santa) me-markup nilainya setinggi mungkin untuk meloloskan Santa jadi dosen PNS.


Ia membagikan skor nilai seleksi CPNS 2021 dan membandingkan skor nilainya dengan Santa.


Calon Dosen Bongkar Dugaan Manipulasi Nilai Seleksi CPNS 2021

“Di semua bidang ujian yang menggunakan komputer, nilai peserta tersebar secara acak dan punya rentang variasi normal. Sebab skornya obyektif mengukur kompetensi peserta, dan komputer mencatat apa adanya,” imbuhnya.


Sementara nilai wawancara dan micro teaching diduga dimanipulasi. Sebanyak 6 orang dari inernal kampus diberi nilai 90 ke atas, sedangkan 10 orang dari luar kampus diberi nilai 40 ke bawah.


“Ada gap score 50 poin yang menjadikan sebaran nilai ini jelas tidak normal,” cetusnya.


Ia menduga pihak kampus sengaja mendongkrak nilai Santa karena dia terancam tidak punya kesempatan lagi untuk menjadi dosen PNS. 


Sebabnya usainya sudah 34 tahun, 5 bulan. Sementara usia maksimal untuk pelamar dosen PNS maksimal 35 tahun.


“Si Santa yang menggeser saya ini usianya 34 tahun 5 bulan. Dengan gelar S2, chance-nya jadi dosen PNS akan hangus tahun depan,” imbuhnya.


“Dia maju SKB di Jalur Umum yang cuma menerima 5 orang. Dan bahkan setelah nilainya didongkrak fantastis pun, ia masih tak masuk 5 besar,” tandasnya. [Democrazy/pojok]