Yakin G30S Ulah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, Putri Soekarno: CIA Terus Mengawasi Mulai Tahun 1950-an | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 08 November 2021

Yakin G30S Ulah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, Putri Soekarno: CIA Terus Mengawasi Mulai Tahun 1950-an

Yakin G30S Ulah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, Putri Soekarno: CIA Terus Mengawasi Mulai Tahun 1950-an

Yakin G30S Ulah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, Putri Soekarno: CIA Terus Mengawasi Mulai Tahun 1950-an

DEMOCRAZY.ID - Putri Presiden pertama RI Soekarno bersama Ratna Sari Dewi, Kartika Soekarno meyakini bahwa peristiwa G30S yang terjadi pada tahun 1965 merupakan ulah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.


Putri Soekarno itu mengatakan, keyakinannya tersebut berasal dari sejumlah dokumen yang baru-baru ini dibuka.


Kartika mengungkapkan, dia menemukan bahwa CIA terus mengawasi Soekarno sejak tahun 1950an.


"Nasib tragis ayah saya dialami oleh jutaan orang Indonesia yang hidupnya dihancurkan oleh kudeta militer berdarah tahun 1965, yang saya yakini didukung oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Dari dokumen-dokumen yang baru-baru ini dibuka, kami menemukan bahwa, mulai tahun 1950an, CIA terus mengawasi Soekarno," kata Kartika, dilansir dari The Guardian pada Senin, 8 November 2021.


Pada tahun 1965, Inggris diduga menghasut pembunuhan massal dengan dalih bahwa orang-orang komunis bertanggung jawab atas pembunuhan enam jenderal TNI. 


Di antaranya adalah Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, dan Mayjen TNI Siswondo Parman.


Menurutnya, Soekarno tahu bahwa keenam jenderal tersebut tidak dibunuh oleh komunis. 


Dia bahkan menyebut sang ayah telah melihat maksud pemerintah Inggris dan Amerika Serikat untuk menggulingkannya.


"Ayahku tahu komunis tidak membunuh enam jenderalnya, dia juga tahu maksud pemerintah Inggris dan Amerika untuk melihatnya digulingkan," ujarnya.


Kartika mengatakan, Presiden kedua RI, Soeharto memerintahkan pembunuhan semua komunis dan pengikut Soekarno. 


Bahkan banyak warga sipil yang tidak paham ideologi komunis juga ditangkap, disiksa, dan dibunuh.


Dia menjelaskan, selama beberapa generasi anggota keluarga korban dianiaya dan ditandai dengan simbol pada kartu identitas mereka untuk mencegahnya mendapatkan pekerjaan.


Akibatnya, mereka tidak bisa bersekolah di sekolah umum dan suit untuk bersekolah di sekolah swasta kecuali di beberapa sekolah Katolik.


Bahkan menurut pengakuannya, saudaranya sendiri yang kini menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri tidak dapat menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.


"Mreka tidak dapat bersekolah di sekolah umum dan sulit bagi anak-anak mereka untuk bersekolah di sekolah swasta kecuali beberapa sekolah Katolik. Bahkan saudara perempuan saya sendiri, Megawati Soekarnoputri, tidak dapat menyelesaikan studinya di universitas," ungkapnya.


Dia pun menyayangkan bahwa kini sebagian besar sejarah kelam Indonesia masih disembunyikan. Kurikulum sejarah Eropa dan Amerika pun tidak menyebutkan perannya dalam masa kelam kolonialisme dan imperialisme barat pada musim dingin. [Democrazy/pkry]