Sri Mulyani: Kita Masih Berjuang untuk Pulihkan Ekonomi RI | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 23 November 2021

Sri Mulyani: Kita Masih Berjuang untuk Pulihkan Ekonomi RI

Sri Mulyani: Kita Masih Berjuang untuk Pulihkan Ekonomi RI

Sri Mulyani: Kita Masih Berjuang untuk Pulihkan Ekonomi RI

DEMOCRAZY.ID - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hingga saat ini Indonesia masih berjuang untuk pemulihan ekonomi. 


Meskipun, sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perbaikan di tahun ini. 


“Pada tahun 2021 pendapatan negara terjadi pemulihan ekonomi recovery dan rebound. Namun ini belum pekerjaan yang sudah selesai. Masih kita sedang terus berjuang memulihkan ekonomi,” ujar Sri Mulyani dalam Kongres Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Tahun 2021 dengan tema Mengawal Efektivitas dan Akuntabilitas di tengah Pandemi, Selasa (23/11).


Dia melanjutkan, saat awal terjadinya COVID-19 di Tanah Air, pendapatan negara dari sisi perpajakan anjlok hingga 17 persen. 


Namun saat ini, pendapatan negara kembali tumbuh hingga 18,2 persen.


“Sampai dengan Oktober 2021 kinerja dari APBN kita cukup baik. Di satu sisi pendapatan negara menunjukkan adanya pemulihan. Sekarang ini pertumbuhan pendapatan negara adalah 18,2 persen yoy atau kita telah mengumpulkan Rp 1.510 triliun atau 86,6 persen dari target kita tahun 2021,” lanjutnya.


Dia memastikan, APBN merupakan instrumen penting dalam upaya Indonesia pulih dari pandemi COVID-19. 


Menkeu juga mengatakan bahwa APBN ini merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang harus bisa dijalankan secara tepat sasaran dan dapat melindungi masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.


“Ini yang menjadi salah satu pertaruhan dan sekaligus juga tanggung jawab atau tugas bagi kita semua, bagaimana APBN keuangan negara atau kebijakan fiskal ini harus benar-benar tepat sasaran mencapai tujuan untuk mencapai perlindungan kepada masyarakat akibat COVID-19, perlindungan kepada masyarakat akibat kemerosotan pendapatan dan kehilangan pekerjaan, dan perlindungan terhadap perekonomian agar meraka bisa bertahan dan pulih kembali,” tambahnya. [Democrazy/kmpr]