Sri Mulyani: Indonesia Butuh Rp3.834 Triliun Untuk Keperluan Mitigasi Perubahan Iklim | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 24 November 2021

Sri Mulyani: Indonesia Butuh Rp3.834 Triliun Untuk Keperluan Mitigasi Perubahan Iklim

Sri Mulyani: Indonesia Butuh Rp3.834 Triliun Untuk Keperluan Mitigasi Perubahan Iklim

Sri Mulyani: Indonesia Butuh Rp3.834 Triliun Untuk Keperluan Mitigasi Perubahan Iklim

DEMOCRAZY.ID - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, menekankan pentingnya kolaborasi dari berbagai pihak untuk meredam perubahan iklim.


Menurut Sri Mulyani, dari kacamata pengambil kebijakan, perubahan tidak bisa dikerjakan sendirian.


Di sisi lain ia pun memaparkan penyumbang terbesar kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK) secara domestik. 


Diantaranya kehutanan, energi dan transportasi, limbah, pertanian, dan industri dan penggunaan produk (IPPU).


Dan diantara yang lima itu, penyumbang emisi GRK tertinggi adalah kehutanan, serta energi dan transportasi.


Untuk menurunkan emisi GRK, berdasarkan laporan dua tahunan kedua Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018 (second Biennial Update Report), pemerintah membutuhkan biaya mitigasi perubahan iklim Rp3.461,31 triliun. 


Dengan target hingga 2030 untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) pemerintah.


Kebutuhan pendanaan ini semakin meningkat sebab Roadmap NDC Mitigasi Indonesia pada 2020 estimasinya mencapai Rp 3.799,63 triliun pada 2020-2030. 


Perinciannya, Rp 3.500 triliun dibutuhkan sektor energi dan transportasi.


Diantaranya untuk menjalankan program renewable energy dan memensiunkan pembangkit listrik tenaga batu bara. 


Sedangkan sisanya Rp181,40 triliun untuk limbah, Rp93,28 triliun untuk kehutanan, dan Rp4,04 triliun untuk pertanian.


Dari kebutuhan pendanaan itu, Sri Mulyani mengatakan masih terdapat kesenjangan pendanaan sekitar 40 persen. 


Sebab, pemerintah hanya bisa menyediakan 27 persen dari total kebutuhan, plus tambahan pendanaan swasta yang berkisar 33 persen.


"Dana yang dibutuhkan untuk mitigasi perubahan iklim ini sangat besar. Maka dari itu, Indonesia juga butuh dukungan dari negara lain. Khususnya negara maju dalam mengimplementasikan Perjanjian Paris, yakni mobilisasi pendanaan iklim," ujarnya, Kamis (11/11/2021).


Sri Mulyani juga menyebut butuh sokongan dari dalam negeri untuk kerja-kerja diplomasi Indonesia dalam mendorong negara-negara maju. 


Tujuannya agar dapat mengimplementasikan salah satu poin dalam Perjanjian Paris.


Terutama berkenaan mobilisasi pendanaan iklim US$100 miliar per tahun untuk negara miskin dan berkembang.


“Jadi mari kita bersama-sama. Ini artinya anak-anak muda seperti kalian itu bisa menjadi voice untuk bicara soal keadilan iklim,” katanya. [Democrazy/trb]