Pengamat Ini Prediksi Letjen Dudung Sudah Jadi KSAD Sejak Mei Lalu, Ternyata Punya Link di Istana Negara | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 16 November 2021

Pengamat Ini Prediksi Letjen Dudung Sudah Jadi KSAD Sejak Mei Lalu, Ternyata Punya Link di Istana Negara

Pengamat Ini Prediksi Letjen Dudung Sudah Jadi KSAD Sejak Mei Lalu, Ternyata Punya Link di Istana Negara

Pengamat Ini Prediksi Letjen Dudung Sudah Dipastikan Jadi KSAD Sejak Mei Lalu, Ternyata Punya Link di Istana Negara

DEMOCRAZY.ID - Pengamat militer Aris Santoso sudah sejak Mei 2021 lalu memprediksi Letjen Dudung Abdurachman akan dijadikan KSAD. Skenario itu sudah ada sejak Mei lalu.


Pengamat militer Aris Santoso sudah memprediksi Letjen Dudung akan jadi KSAD sejak Letjen Dudung diangkat menjadi Pangkostrad pada Mei lalu.


Dilansir dari YouTube Kompas TV pada 27 Mei 2021 lalu, Aris Santoso memperkirakan ada skenario di balik mutasi Letjen Dudung jadi Pangkostrad.


Dimana sebelumnya Letjen Dudung merupakan Pangdam Jaya dengan pangkat Mayjen.


“Yang paling penting ini, Pak Dudung meramaikan nominasi untuk KSAD berikutnya,” ujar Aris Santoso Mei lalu.


Diketahui jabatan KSAD saat itu dipegang Jenderal Andika Perkasa.


Sebagai pengamat TNI, Aris Santoso sendiri mengaku agak luput mengikuti jejak karier Dudung Abdurachman.


Dalam bayangan Aris, promosi Letjen Dudung ini sedikit politis karena dipercepat.


Menurut Aris Santoso ada empat calon KSAD yaitu Kasum TNI Letjen Eko Margiyono, Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman, Pangdam Kasuari Mayjen Nyoman Cantiasa dan Pangdam Udayana Mayjen Maruli Simanjuntak.


Bagi Aris Santoso, tiga nama selain Dudung sudah lama dikenal publik. Sementara Dudung tiba-tiba muncul.


“Pak Dudung ini sebagai kuda hitam sebagai calon KSAD,” ujar Aris saat bulan Mei itu.


Aris Santoso melihat akselerasi karier Dudung Abdurachman karena punya link di Istana.


Menurut Aris, Dudung adalah menantu Kholid Ghozali.


“Kholid Ghozali ini adalah jenderal purnawirawan Akmil 65 yang kebetulan adalah sahabat baik Pak Taufik Kiemas waktu zaman remaja di Palembang,” terang Aris.


“Artinya apa? Artinya Pak Dudung ini sudah masuk di radarnya Mbak Mega, Ketua Umum PDIP,” ujar dia lagi.


Menurut Aris Santoso, dalam membaca calon KSAD atau calon Panglima TNI biasanya perlu mencari hubungannya dengan kekuasaan.


“Kalau sudah pangkat jenderal itu, kategori profesionalisme, portofolio, kemampuan sudah lewat semua. Itu dianggap sudah setara semua tinggal gimana nasib dia,” ujar Aris Santoso.


Begitu juga dengan Letjen Eko Margiyono yang pernah menjadi Komandan Paspampres.Menurut Aris, nama Eko sudah masuk radar Presiden Jokowi.


Begitu juga dengan Mayjen Maruli Simanjuntak yang merupakan menantu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.


“Pak Nyoman Cantiasa ini yang masih murni. Saya tidak menemukan link dengan kekuasaan. Beliau pemegang Adhi Makayasa,” kata Aris saat Mei itu seperti dilansir suaralampung.id.


Menurutnya, pemegang Adhi Makayasa ini punya poin ketika zaman SBY. Karena SBY pemegang Adhi Makayasa menjadikan benchmark yang menjadi KSAD atau Panglima TNI pemegang Adhi Makayasa.


“Pemegang Adhi Makayasa punya peluang meski tidak punya link dengan Istana,” tuturnya.


Namun untuk siapa yang menjadi KSAD, menurut Aris, itu hak proregatif Istana. Idealnya kata dia, seorang KSAD adalah jenderal berprestasi bagus dan punya back up dari Istana.


“Eko Margiyono ideal. Pernah jadi Danjen Kopassus, pernah jadi Pangdam Jaya, pernah Pangkostrad, nama dia sudah masuk radar Pak Jokowi,” jelasnya.


“Tapi bukan berarti Pak Eko yang jadi. Masih ada tarik menarik di kalangan elit terutama yang mengendorse mereka,” jelas Aris lagi.


Aris memprediksi ada tiga nama yang berpeluang besar menjadi KSAD yaitu Eko, Dudung dan Nyoman. [Democrazy/pojok]