Mengharukan! Begini Kisah Eks Bos Samsung Mantap Mualaf: Saya Lihat Sendiri Bagaimana Muslim Berperilaku | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 21 November 2021

Mengharukan! Begini Kisah Eks Bos Samsung Mantap Mualaf: Saya Lihat Sendiri Bagaimana Muslim Berperilaku

Mengharukan! Begini Kisah Eks Bos Samsung Mantap Mualaf: Saya Lihat Sendiri Bagaimana Muslim Berperilaku

Mengharukan! Begini Kisah Eks Bos Samsung Mantap Mualaf: Saya Lihat Sendiri Bagaimana Muslim Berperilaku

DEMOCRAZY.ID - Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya agama merupakan salah satu hal yang cukup sensitif utnuk dibahas. 


Namun, suka atau tak suka, kenyataannya banyak kisah mengharukan dari orang-orang yang akhirnya memutuskan untuk memeluk suatu keyakinan. 


Hal itu pulalah yang dialami oleh seorang eks Vice President Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun, yang memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. 


Rupanya semua berawal saat Lee menyadari dirinya memiliki kecintaan yang begitu besar terhadap Indonesia melalui ajang pena. 


Ya, ia mengaku memiliki sahabat pena yang kebetulan merupakan warga Indonesia. 


Nah, di tahun 1989, Lee akhirnya memutuskan untuk mengunjungi temannya itu di Aceh. 


Betapa senangnya ketika Lee disambut dengan hangat oleh keluarga sahabatnya tersebut hingga membuatnya betah untuk tinggal berlama-lama. 


Saat pulang ke Korea, Lee selalu teringat akan keramahan orang Indonesia sehingga hal itu membuatnya memutuskan untuk datang kembali ke Indonesia. 


“Ketika pulang ke Korea, mereka selalu muncul dalam mimpi saya. Benar-benar ingat terus,” ujar Lee, seperti dikutip dari kanal YouTube Ilham TV via Paragram pada Minggu, 21 November 2021. 


Agar mudah dalam berkomunikasi, Lee memutuskan untuk belajar bahasa Indonesia. 


Bahkan, ia sampai mengambil pendidikan khusus selama sebulan di Universitas Indonesia (UI). 


Kemudian pada tahun 1991, Lee diterima bekerja di Samsung dan saat itu pula ia mendapatkan kesempatan untuk bertugas di Samsung Indonesia. 


Di usianya yang masih cukup muda, Lee bekerja dengan sangat keras dibandingkan rekan-rekannya. 


Hingga suatu hari, ia mendapatkan kesempatan untuk ditugaskan ke luar negeri. 


Ditambah lagi, Lee juga mesti menguasai kondisi pasar bisnis sesuai kebijakan Pemerintah Indonesia. 


Lantaran keingintahuannya yang tinggi, Lee menjadi semakin fasih berbahasa Indonesia dan mulai mengenali berbagai budaya Nusantara. 


Namun, Lee merasa ada sesuatu yang menghalanginya dengan masyarakat sekitar, yaitu pengetahuannya soal Islam sebagai agama mayoritas. 


“Agama di sini (Indonesia) sudah menjadi bagian kehidupan. Berbeda sekali dengan di Korea. Di Korea, mayoritas memilih tidak beragama dan hal itu tidak jadi masalah.” 


Tak lama, Lee pun mulai mengenal Islam dari temannya. Satu hal yang membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam ialah saat ayah temannya yang selalu mengajarkan ilmu agama melalui pengajian. 


Sementara itu, ibu temannya ternyata adalah pendiri panti asuhan sehingga sejak saat itulah Lee mempelajari Islam lebih dekat. 


“Jadi, saya benar-benar melihat sendiri bagaimana Muslim berperilaku. Kemudian saya diajari sholat.”


Nah, pasa tahun 1994, Lee kemudian.emutuskan menjadi seorang mualaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. 


Selama perjalanan menjadi mualaf, Lee mengaku cukup kesulitan. 


Apalagi ketika ia pulang ke Korea dan harus menjalani bulan puasa. 


Namun, seiring berjalannya waktu, Lee akhirnya semakin terbiasa karena teman-temannya di Korea sangat menghormatinya. 


Uniknya lagi, ternyata Lee sempat mendapat panggilan ‘Pak Haji’ oleh para karyawannya di kantor, lho! 


“Nama saya KH Lee, mungkin orang-orang memanggil ‘Kiai Haji Lee’, jadi sekalian didoakan.” 


Lee mengatakan, sementara ini ia belum tahu kapan pastinya akan berangkat menunaikan ibadah haji, tetapi dirinya sudah sempat melaksanakan umrah sebanyak dua kali. 


Dalam perjalanannya saat umrah, Lee mengatakan banyak hal besar yang tak bisa ia jelaskan secara gamblang dan ia benar-benar bersyukur karena bisa menjadi seorang Muslim. [Democrazy/terkini]