Luhut Diminta Tidak Lepas Tangan soal Banyak TKA China di Sektor Tambang | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 24 November 2021

Luhut Diminta Tidak Lepas Tangan soal Banyak TKA China di Sektor Tambang

Luhut Diminta Tidak Lepas Tangan soal Banyak TKA China di Sektor Tambang

Luhut Diminta Tidak Lepas Tangan soal Banyak TKA China di Sektor Tambang

DEMOCRAZY.ID - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto meminta Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan tidak lepas tangan dengan banyaknya tenaga kerja asing (TKA) asal China yang bekerja di industri tambang atau smelter nikel. 


Apalagi dengan alasan, bahwa Indonesia tidak memiliki SDM untuk memenuhinya. Sementara diduga banyak TKA yang bekerja di industri smelter tidak berkualifikasi tenaga ahli. Di antaranya malah datang ke Indonesia dengan visa turis.


“Masak TKA yang datang pada industri smelter ini berkualifikasi pekerja kasar dan dengan visa kunjungan. Ini kan merugikan kita. Pemerintah tentunya harus memastikan soal ini, agar tidak menjadi isu liar di tengah masyarakat,” kata Mulyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (24/11/2021). 


Politikus PKS itu menilai Indonesia memilikI SDM yang siap untuk dilatih mengelola smelter. 


Smelter milik pengusaha domestik juga ada dan saat ini Mind ID dan PT Aneka Tambang sedang gencar membangun pabrik Feronikel di Halmahera dengan kapasitas 13,500 nikel dan Smelter Grade Alumina (SGA) di Mepawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas 2 juta ton per tahun. 


Tak hanya itu, juga ada smelter PT. Freeport Indonesia di Gresik.


“SDM Indonesia dapat disiapkan untuk mengelola smelter. Cuma kebijakan politik Pemerintah saja yang tidak memihak dan tegas terkait alih teknologi ini,” ujarnya.


Menurut dia, kebijakan Pemerintah kini amat memanjakan pengusaha smelter asing. Semestinya ada kebijakan atau perjanjian semacam yang mewajibkan pekerjaan kelas menengah dan buruh diserahkan untuk tenaga kerja domestik, tidak bulat-bulat mendatangkan TKA.


“Kalaupun ini tidak bisa langsung dipenuhi, paling tidak dapat dilakukan secara bertahap melalui mekanisme pelatihan alih teknologi. Ini soal pilihan kebijakan dari Pemerintah dan perjanjian dengan pihak asing,” katanya.


Selain soal TKA, ia juga mendesak Pemerintah terus mengevaluasi pelaksanaan program hilirisasi nikel ini. 


Jangan sampai nilai tambah dan efek pengganda dari program ini jauh dari apa yang dijanjikan Pemerintah.


“Hilirisasi nikel ini kan program yang bagus, agar kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi bahan jadi dengan nilai tambah tinggi. Dengan demikian, penerimaan Negara akan meningkat.  Selain itu dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal." 


"Namun, kalau prakteknya yang dihasilkan hanyalah produk nikel setengah jadi dengan nilai tambah rendah dan maraknya TKA berkualifikasi kasar. Tentu ini akan mengecewakan kita. Ini tidak sesuai dengan harapan," ujarnya.


Sebelumnya, SDM asal Indonesia yang kurang terampil membuat TKA yang bekerja di bidang tambang dan proyek smelter disebut semakin banyak.


Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.


Seperti diketahui, jumlah tenaga TKA di Indonesia, khususnya yang berasal dari China, memang bertambah banyak dalam beberapa tahun terakhir.


Adapun industri di Tanah Air yang cukup banyak menyerap TKA asal China adalah proyek tambang dan smelter.


"Sekarang kita tidak mau hanya ekspor raw material, kita mau itu jadi satu kesatuan. Ini kesalahan kita berpuluh-puluh tahun, kita perbaiki. Memang ada kritik awalnya, 'kenapa enggak pakai tenaga Indonesia?' Memang tidak ada," kata Luhut, Minggu (21/11/2021). [Democrazy/ktv]