Kisah Mochtar Kusumaatmadja Terpental di Era Soekarno, Peristiwa yang Mengguncang Dunia Akademik Indonesia | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 25 November 2021

Kisah Mochtar Kusumaatmadja Terpental di Era Soekarno, Peristiwa yang Mengguncang Dunia Akademik Indonesia

Kisah Mochtar Kusumaatmadja Terpental di Era Soekarno, Peristiwa yang Mengguncang Dunia Akademik Indonesia

Kisah Mochtar Kusumaatmadja Terpental di Era Soekarno, Peristiwa yang Mengguncang Dunia Akademik Indonesia

DEMOCRAZY.ID - Mantan Menteri Luar Negeri Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH, LLM pernah punya pengalaman pahit dengan penguasa. 


Ia dianggap menghina Presiden Soekarno dan terpental dari jabatannya sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.


Sang ahli hukum juga dituduh anti terhadap Manifesto politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (Manipol Usdek) yang dicetuskan Bung Karno sebagai haluan negara.


Akan tetapi, sejarah membuktikan Mochtar Kusumaatmadja justru menjadi tokoh penting yang memperkenalkan Konsep Nusantara yang menjadikan wilayah laut sebagai satu kesatuan dengan kawasan darat negeri ini.


Rosihan Anwar, wartawan senior menemui Mochtar Kusumaatmadja di kediamannya pada 16 November 1962. 


Ia datang bersama koleganya, Soedjatmoko guna melihat lebih dekat dampak peristiwa yang membuat ahli hukum laut itu diberhentikan sebagai pimpinan Fakultas Hukum Unpad oleh Presiden Soekarno.


”Kami mendapati Mochtar Kusumaatmadja di rumahnya, tampak dia masih sangat terkesan oleh goncangan-goncangan yang baru dialaminya,” ujar Rosihan dalam buku kumpulan catatan-catatannya, Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965.


Pemimpin dan pendiri Harian Pedoman yang medianya dilarang terbit oleh pemerintah Soekarno memang tak mengenal secara dekat pribadi sosok Mochtar Kusumaatmadja. Namun, sosok pakar hukum itu sudah dikenal sebagai sarjana yang brilian.


”Waarom maken ze toch zo'n heibel overmij (Mengapa toh mereka begitu ribut mengenai saya),” tanya Mochtar Kusumaatmadja.


Rosihan tak menjawab pertanyaan itu dan hanya memperhatikan sosok Mochtar Kusumaatmadja yang rapi, klimis dengan kumis halus yang melintang di atas bibirnya.


Mochtar Kusumaatmadja tengah berbenturan dengan kekuasaan Soekarno saat itu.


Rosihan menyebut persoalan tersebut sebagai ”Peristiwa Mochtar Kusumaatmadja” dalam kumpulan catatannya itu.


Peristiwa Mochtar Kusumaatmadja turut dimuat dalam koran berbahasa Belanda, Trouw pada terbitan 13 November 1962.


Tindakan Soekarno ditulis Trouw sebagai sesuatu yang telah mengguncang dunia akademik Indonesia.


Mochtar Kusumaatmadja padahal punya reputasi internasional seperti pembelaan terhadap Indonesia dalam kasus Tembakau Bremen 1959, berpartisipasi dalam Konferensi Jenewa tentang hukum maritim internasional pada 1958, dan pembelaannya terhadap klaim Indonesia guna memperluas wilayah perairannya hingga 12 mil pada 1960.


Meski begitu, kiprah dan jasa Mochtar Kusumaatmadja rupanya tak membuat penguasa Orde Lama bersikap lunak atau paling tidak menghormati kebebasan berpendapat di lingkungan kampus. Ia tetap saja dilucuti sebagai pejabat dekan dan pengajar kampus.


Konsep Nusantara


Punya pengalaman pahit dengan kekuasaan Soekarno, Mochtar Kusumaatmadja justru menjadi orang penting karena diangkat sebagai menteri dalam pemerintahan Presiden Soeharto.


Salah satu jasanya yang paling dikenang terkait Konsep Nusantara yaitu pada Desember 1957.


Konsep itu menyatakan, ”seluruh perairan, yang mengelilingi di antara dan menyatukan negara Indonesia, adalah bagian integral dari wilayah negara, karena bagiannya perairan dalam negeri berada di bawah kedaulatan penuh Indonesia.”


UU itu sangat penting karena memberlakukan konsep 12 mil wilayah perairan, bukan 3 mil sebagaimana aturan sebelumnya dalam Konsep Kelautan Teritorial 1939.


Pada 1969, Indonesia mengajukan Hukum Selat Kontinental dan beroleh persetujuan mengenai selat kontinental dengan negaranegara tetangganya. [Democrazy/pkry]