Breaking

logo

28 November 2021

KPUA Khawatir MUI Dikendalikan Densus 88

KPUA Khawatir MUI Dikendalikan Densus 88

KPUA Khawatir MUI Dikendalikan Densus 88

DEMOCRAZY.ID - Majelis Ulama Indonesia (MUI) dikhawatirkan dikendalikan Densus 88 dengan menonaktifkan Ustadz Zain An Najah setelah menjadi tersangka kasus terorisme.


“Saya khawatir, MUI bukannya disusupi terorisme tapi sudah dikendalikan oleh densus 88. Sehingga, MUI yang semestinya membela ulama justru melegitimasi kezaliman Densus 88,” kata Umum Koalisi Persaudaraan dan Advokasi Umat (KPUA) Ahmad Khozinudin kepada Redaksi SuaraNasional, Ahad (28/11/2021).


Khozinudin mempertanyakan Najih Arromadloni yang menjabat Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI. 


“Kenapa MUI ikut-ikutan repot ngurusi terorisme ? bukankah itu tugas dan kewajiban BNPT dan Densus 88 ?” tanya Khozinudin.


Kronologi dan Bayan yang dikeluarkan MUI bukannya membela dan melindungi ulama, justru memojokkan posisi ustadz Ahmad Zain an Najah. 


Sebuah sikap yang tak layak, dikeluarkan oleh lembaga sekelas MUI.


“Sepertinya persoalan ini makin melebar. Kepolisian juga mengatakan akan melakukan penangkapan kembali yang disebut akan lebih menghebohkan,” paparnya.


Khozinudin mengatakan, Densus 88 juga tak boleh melakukan serangkaian kunjungan yang berpotensi memframing secara opini proses penangkapan ulama yang hingga saat ini belum dibuktikan di pengadilan. 


Statement sepihak dari densus 88, tidak bisa memberikan keyakinan dan ketentraman kepada umat Islam.


“Pak Kapolri, perlu Anda ketahui bahwa suasana kebatinan umat Islam saat ini sangat marah. Mereka tidak terima, ulamanya diperlukan secara zalim oleh densus 88,” jelasnya.


Karena itu, sepertinya sudah sangat mendesak dilakukan pertemuan antara keluarga, perwakilan umat Islam, ulama yang didampingi advokat dengan Kapolri, agar mendapatkan klarifikasi langsung dari Kapolri mengenai persoalan ini. 


Disisi lain, kami juga ingin menyampaikan keadaan dan cerita sesungguhnya kepada Pak Kapolri.


“Saya khawatir, Pak Kapolri tidak mendapatkan laporan bagaimana beringasnya kerja densus 88 di lapangan. Sampai-sampai tidak lagi menghormati batas, dan melecehkan kemuliaan wibawa muslimah yang ada di pondok pesantren,” pungkasnya. [Democrazy/SuaraNasional]