Greenpeace: Proyek Food Estate 700 Hektare di Kalteng Picu Banjir | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 22 November 2021

Greenpeace: Proyek Food Estate 700 Hektare di Kalteng Picu Banjir

Greenpeace: Proyek Food Estate 700 Hektare di Kalteng Picu Banjir

Greenpeace: Proyek Food Estate 700 Hektare di Kalteng Picu Banjir

DEMOCRAZY.ID - Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas mengungkapkan, pembukaan lahan seluas 700 hektare untuk proyek food estate kebun singkong di Palangka Raya, Kalimantan Tengah memicu banjir.


Arie mengatakan, pembukaan lahan untuk proyek lumbung pangan yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto itu menyebabkan resapan air berkurang, terutama di hulu daerah aliran sungai (DAS) Kahayan.


"Proyek Food Estate singkong yang membuka hutan seluas -/+ 700 ha berpengaruh terhadap daya dukung di wilayah resapan air di hulu DAS Kahayan," kata Arie, Jumat (19/11).


Lebih lanjut, Arie menjelaskan, masalah pembukaan lahan di sekitar DAS Kahayan menjadi sesuatu yang penting. 


Sebab, tiga kabupaten di Kalteng dialiri oleh sungai tersebut. Salah satunya Palangka Raya.


"DAS Kahayan ini ada Kabupaten Gunung Mas, Pulau Pisau, dan kota Palangka Raya. Nah itu yang dialiri Sungai Kahayan," kata dia.


Ia menyebut, DAS Kahayan juga merupakan hulu DAS yang melindungi daerah tengah dan hilir. Arie berkata, jika tutupan hutan di hulu berkurang, maka fungsi daerah tangkapan air (DTA) atau catchment area juga menjadi menurun.


"Itu mendorong terjadinya banjir, karena daya dukung dan daya tampung DAS menurun. Jadi ketika musim hujan, terjadi banjir," imbuhnya.


Berdasarkan data Greenpeace, hutan primer di Palangka Raya hilang sekitar jutaan hektare dalam kurun waktu 2001-2020.


Tutupan hutan di sekitar DAS yang ada di Palangka Raya juga menurun drastis. Data Greenpeace menunjukkan, tahun 1990 tutupan hutan masih 969.836 hektare. Namun, pada 2020, tutupan hutan menjadi 570.847 hektare.


Banjir terjadi di beberapa daerah dekat DAS Kahayan. Pada 10 l September 2021, banjir terjadi di Palangka Raya selama lebih dari 10 hari. Kemudian di Kabupaten Pulau Pisau, Kalimantan Tengah, banjir terjadi sampai 20 hari, yakni pada 21 Agustus - 9 September. [Democrazy/cnn]