Bersimbah Darah, Hendropriyono Berhasil Lumpuhkan Gembong PKI Paling Ditakuti | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 11 November 2021

Bersimbah Darah, Hendropriyono Berhasil Lumpuhkan Gembong PKI Paling Ditakuti

Bersimbah Darah, Hendropriyono Berhasil Lumpuhkan Gembong PKI Paling Ditakuti

Bersimbah Darah, Hendropriyono Berhasil Lumpuhkan Gembong PKI Paling Ditakuti

DEMOCRAZY.ID - KISAH keberanian pasukan elite Kopassus di berbagai palagan sering didengar. 


Namun kali ini, sebuah peristiwa heroik datang dari Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono saat menjalankan operasi penumpasan PKI di belantara Kalimantan Barat.


Saat itu, RPKAD cikal bakal Kopassus menjadi ujung tombak dalam Operasi Sapu Bersih (Saber) II (1967-1969) dan III (1969-1970), hingga rangkaian operasi yang digelar pelaksana khusus daerah (Laksusda) di seantero Kalimantan Barat (1970-1974). 


Operasi Sapu Bersih tahap III sempat diperpanjang dengan digelarnya Operasi Halilintar yang dilakukan pasukan baret merah di bawah pimpinan Kapten Inf Hendropriyono. 


Tim ini bertugas untuk mencari dan menangkap hidup atau mati para anggota eks Comite Daerah Besar (CBD) PKI Kalbar dan menutup kegiatan PKI di sepanjang pantai barat Kalbar.


Dilansir buku Kopassus untuk Indonesia, Kamis (11/11/2021), Tim Halilintar di bawah pimpinan komandan tim Kapten Inf Hendropriyono menggelar empat operasi dari bulan Agustus-Desember 1973, masing-masing memakan waktu sekitar 10 hari. 


Tiga operasi pertama membawa hasil sesuai rencana dan operasi gelombang empat dilaksanakan untuk mengejar Sukirjan alias Siauw Ah San (Hassan), sekretaris PKI/GABA di daerah Lo Nam Kok (daerah sungai Cina di Kab. Mempawah). 


Tim halilintar telah melaksanakan penggalangan dan pengumpulan informasi yang cukup rumit dan akhirnya diputuskan untuk menangkap Hassan pada 4 Desember 1973 pukul 15.00. 


Tim Halilintar kemudian dibagi atas empat kelompok; penyergap, pembersih, penutup dan cadangan. 


Hendropriyono menjadi komandan kelompok penyergap dengan lima orang anggota. 


Dengan diantar oleh tunangan Hassan, tim penyergap masuk lebih dulu dan mendapati sasaran sendirian di dalam rumahnya, serangan pun dimulai dengan mengepung dan menerobos masuk.


Namun Hassan memberikan perlawanan yang cukup sengit menggunakan bayonet yang menyebabkan Pelda Konselani terluka parah sehingga harus dibawa keluar oleh rekan-rekannya. 


Ketika Pelda Konselani dievakuasi keluar, Hassan mengalihkan perhatiannya kepada Kapten Hendropriyono yang akhirnya terluka dibanyak tempat di tubuhnya. 


Perkelahian berakhir saat Hendropriyono menarik pistolnya dan melayangkan dua peluru ke tubuh Hassan. 


Hassan tewas di tangan tim Halilintar dengan tembakan akhir dari dua anggota yang mengakhiri sepak terjangnya sebagai Sekretaris PKI gaya baru di daerah Lo Nam Kok. 


Operasi Halilintar tahap empat dilanjutkan dengan operasi tahap lima untuk menangkap Bui Kong, wakil Hassan. 


Operasi berjalan lancer dengan Bui Kong yang ditangkap hidup-hidup dan membuka inti kehancuran PKI di sektor barat Kalimantan. [Democrazy/oke]