Soroti Cara Risma Tanggapi Kritik dengan Marah-marah, Pengamat: Dia Belum Siap Jadi Pemimpin Negara Demokrasi | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 16 Oktober 2021

Soroti Cara Risma Tanggapi Kritik dengan Marah-marah, Pengamat: Dia Belum Siap Jadi Pemimpin Negara Demokrasi

Soroti Cara Risma Tanggapi Kritik dengan Marah-marah, Pengamat: Dia Belum Siap Jadi Pemimpin Negara Demokrasi

Soroti Cara Risma Tanggapi Kritik dengan Marah-marah, Pengamat: Dia Belum Siap Jadi Pemimpin Negara Demokrasi

DEMOCRAZY.ID - Menteri Sosial Tri Rismaharini disebut anti-kritik imbas debat sengit dengan mahasiswa saat kunjungan kerjanya mengevaluasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Lombok Timur, NTB.


Pengamat kebijakan publik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai Risma tak semestinya emosi saat didatangi mahasiswa yang ingin menyampaikan kritik. Semestinya Risma menerima kritik dengan legawa.


"Seorang pemimpin di negara demokrasi tentu harus siap dikritik, dan dia harus menerima itu dengan legawa, jadi kalau rakyat menyampaikan kritik itu enggak boleh ditanggapi dengan cara marah-marah," kata Jamiluddin saat dihubungi, Kamis (14/10).


Menurutnya, Risma sebagai menteri harusnya bisa menyambut kritik dengan sukacita. 


Gelagat Risma saat berhadapan dengan mahasiswa juga disebut tak etis karena menjawab dengan nada tinggi di tengah situasi yang sengit.


"Kalau saya lihat, maaf, Mensos Risma ini belum siap jadi pemimpin di negara demokrasi," ujarnya.


Ia juga menilai publik akan melihat Risma sebagai sosok kontroversial ketimbang berprestasi jika terus menunjukkan kemarahannya di depan umum.


Sementara, menurut Jamiluddin, Risma ditugaskan menduduki kursi Menteri Sosial untuk memperbaiki citra pemerintah yang tercoreng akibat korupsi dana bansos oleh Mensos sebelumnya, Juliari P. Batubara.


"Mensos itu lebih banyak kontroversinya. Makanya saya nilai Risma ini lebih banyak menjadi beban bagi presiden. Padahal tugasnya banyak, termasuk memperbaiki citra pemerintah," ujar Jamiluddin.


Selain itu, Risma juga dinilai terlalu fokus pada permasalahan yang ditemukan dalam program bantuan sosial (bansos). 


Sementara ada banyak program lainnya yang juga menjadi wewenang Kemensos yang seolah tak tersentuh.


Misalnya, program penyuluhan pada anak yatim piatu dan penyandang disabilitas, penyuluhan pada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), hingga masalah penyelesaian kemiskinan.


"Fokus pada program bansos bagus, tapi kan ada program lainnya juga. Tugas Risma sebagai Mensos itu kan ada banyak sekali," tuturnya.


Sebelumnya, Risma tampak berdebat sengit saat menghadapi dua mahasiswa di Lombok Timur dalam sebuah rekaman video berdurasi dua menit.


Perdebatan terjadi dipicu protes mahasiswa ketika Risma mendatangi distributor Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), alih-alih mendatangi warga yang dicurangi oknum bansos.


Sejauh ini, pihak Kemensos belum memberikan tanggapan terkait peristiwa ini.


Terkait video debat sengit itu, anak Risma, Fuad Benardi, mengakui ibundanya memang pada dasarnya tukang marah. 


"Di rumah juga seperti itu [marah-marah], ndak usah kaget," aku dia. [Democrazy/cnn]