Singgung Luka Lama NU, Gus Nadir: Dari Dulu Kyainya Dihina, Disingkirkan, Dicaci-Maki | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 29 Oktober 2021

Singgung Luka Lama NU, Gus Nadir: Dari Dulu Kyainya Dihina, Disingkirkan, Dicaci-Maki

Singgung Luka Lama NU, Gus Nadir: Dari Dulu Kyainya Dihina, Disingkirkan, Dicaci-Maki

Singgung Luka Lama NU, Gus Nadir: Dari Dulu Kyainya Dihina, Disingkirkan, Dicaci-Maki

DEMOCRAZY.ID - Kyai Nahdlatul Ulama, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir membelai NU yang sering dinyinyiri oleh pihak lain. 


Sampai-sampai admin Gus Nadir menyinggung luka lama NU lho.


Admin akun Gus Nadir mengatakan, betapapun terus diserang dan pernah disingkirkan secara politik di masa lalu, tapi NU tetap nggak berontak kok.


Alih-alih jadi berontak dan radikal, NU terus komitmen menjaga NKRI lho.


NU Disingkirkan


Admin Gus Nadir menuliskan bagaimana NU dimarjinalkan dan dilabeli dengan label yang tendensius. Namun NU tetap nggak berontak lho.


“NU itu dari dulu sudah sering dianggap sesat, ahlul bid’ah, kampungan, disingkirkan dari catatan sejarah bangsa. Kiai-nya dihina, cuma disuruh ngaji saja menonton kue kekuasaan & kemakmuran dibagi oleh yang lain. Tapi NU gak pernah berontak atau jadi radikal. NU kokoh menjaga NKRI,” tulis admin akun Gus Nadir dikutip Jumat 29 Oktober 2021.


Admin Gus Nadir ini mengatakan biarlah NU dicaci maki, yang penting kalangan NU tak ikut emosi dengan pancingan caci maki tersebut. Gus Nadir berpesan jangan ladeni lah yang caci maki NU.


“Yang caci maki, gak usah diladeni. Yang tiap hari nyinyir dengan Hadratus Syekh, gak usah kita kepancing utk meladeninya. Kata-kata tak akan membuat kita menjadi mulia atau hina di sisi Allah. Sikap dan amalan kita sendiri yang akan menentukan nilai kita di sisi Allah,” kata dia.


Luka Lama NU


Admin Gus Nadir di cuitan lainnya menyinggung pula luka lama yang dialami NU. 


Yaitu NU disingkirkan secara politik di lembaga keagamaan dan lembaga Islam. 


NU disingkirkan itu terjadi pada era Orde Baru, beberapa dekade lalu.


“Di periode 80-90-an, birokrat karir maupun dosen dari NU sangat susah mendapat posisi di Departemen Agama maupun IAIN. Usulan Guru Besar jg sering mentok dan dipersulit apalagi posisi Rektor dan Eselon 1. Bukan mau mengorek luka lama. Hanya cerita saja biar bisa melihat secara utuh,” katanya. [Democrazy/hops]