Sebelum Banteng vs Celeng, Ini 5 Kisruh Internal PDIP yang Menyedot Perhatian Publik | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 13 Oktober 2021

Sebelum Banteng vs Celeng, Ini 5 Kisruh Internal PDIP yang Menyedot Perhatian Publik

Sebelum Banteng vs Celeng, Ini 5 Kisruh Internal PDIP yang Menyedot Perhatian Publik

Sebelum Banteng vs Celeng, Ini 5 Kisruh Internal PDIP yang Menyedot Perhatian Publik

DEMOCRAZY.ID - Internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) sedang bergejolak. 


Muncul dua kubu berseberangan, satu mendukung Ganjar Pranowo menjadi Calon Presiden (Capres) dan satu lagi menginginkan Puan Maharani yang dijagokan pada Pilpres 2024.


Perseteruan semakin panas setelah Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto atau akrab disapa Bambang Pacul menyebut kader yang mendeklarasikan dukungan capres sebelum ada arahan dari Megawati Soekarnoputri disebut keluar barisan. Bambang Pacul mengidentifikasi mereka dengan sebutan celeng. 


Sementara kader yang setia pada garis partai adalah banteng.


Sebagai partai besar, PDIP bukan sekali ini saja mengalami kisruh di dalam internal kader. Partai besutan Megawati Soekarnoputri itu beberapa kali terancam perpecahan. 


Namun berkat kepemimpinan Megawati, semua persoalan mampu diselesaikan dengan baik atau mereda dengan sendirinya.


Berikut ini catatan perpecahan di internal PDIP:


1. Kongres I PDIP


Guna memperbaiki internal PDIP, pengurus DPP menyarankan percepatan pelaksanaan Kongres I 2000 di Semarang. 


Menjelang kongres, Dimyati Hartono dan Eros Djarot berinisiatif mengurangi beban tanggung jawab Megawati melalui pencalonan Sekjen. 


Namun, inisiatif itu dianggap ingin menggeser Megawati dari kursi Ketua Umum PDIP. Dimyati Hartono dan Eros Djarot pun akhirnya terdepak dari keanggotaan partai.


2. Kongres II PDIP


Jika pada Kongres I PDIP hanya mencalonkan Megawati sebagai Ketua Umum, berbeda dengan Kongres II di Bali pada 2005. 


Menjelang pelaksanaan kongres, Gerakan Pembaharuan PDI Perjuangan memunculkan banyak pilihan calon. 


Antara lain Arifin Panigoro, Roy BB Janis, Laksamana Sukardi, Sophan Sopian, dan Guruh Soekarnoputra.


Namun dalam perjalanannya, kelima calon dari gerakan pembaharuan PDIP mengundurkan diri. Megawati pun menjadi calon tunggal dan terpilih kembali menjadi Ketua Umum PDIP.


Dari gerakan pembaharuan ini lahirlah Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).


3. Pilgub Jateng 2013


Kisruh internal PDIP juga terjadi pada Pilgub Jateng 2013. Wakil Gubernur Jawa Tengah waktu itu, Rustriningsih ingin naik kelas menggantikan Bibit Waluyo. Namun Megawati justru memberikan posisi itu ke Ganjar Pranowo.


Rustri kecewa, sakit hati. Dia tak terima saat loyalitas, prestasi, dan popularitasnya dianggap seolah tak berarti lagi. 


Atas kekecewaan itu, pada Pilpres 2014 Rustri balik arah mendukung Prabowo Subianto-Hatta Radjasa yang merupakan lawan jagoan PDIP, Jokowi-Jusuf Kalla.


4. Pilwalkot Surabaya 2020


Keputusan Megawati Soekarnoputri memberikan rekomendasi kepada figur nonpartai di Pilwalkot Surabaya 2020 menyulut gejolak di internal partai. 


PDIP memilih mengusung birokrat Eri Cahyadi menjadi calon wali kota Surabaya daripada kadernya, Whisnu Sakti Buana.


Kecewa atas keputusan tersebut, sejumlah kader mendukung Machfud Arifin-Mujiaman, lawan Eri Cahyadi-Armuji. 


Meski begitu, pasangan yang diusung PDIP berhasil memenangkan Pilwalkot Surabaya.


5. Pilwakot Solo 2020


Keinginan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka mencalonkan diri menjadi Wali Kota Solo membuat friksi di internal PDIP. 


Sebab, pengurus cabang PDIP Solo telah sepakat mengusung Achmad Purnomo untuk meneruskan kepemimpinan FX Hadi Rudyatmo.


Gibran yang telah bulat niatnya lalu mendaftar melalui DPD PDIP Jateng. 


Akhirnya Gibran dan Achmad Purnomo sama-sama diajukan menjadi bakal calon Wali Kota Solo ke DPP PDIP.


Dari hasil fit and proper test, DPP PDIP akhirnya memberikan rekomendasi kepada Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakoso sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.


Gibran-Teguh menang telak atas pasangan independen, Bagyo Wahyono-FX Suparjo dengan memperoleh 90,4% suara. Sementara Bagyo-Suparjo hanya mendapatkan 9,5% suara. [Democrazy/sindo]