Pengamat Ini Beberkan Tujuh Alasan Mengapa Rakyat Ogah Membantu Pemerintah | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 08 Oktober 2021

Pengamat Ini Beberkan Tujuh Alasan Mengapa Rakyat Ogah Membantu Pemerintah

Pengamat Ini Beberkan Tujuh Alasan Mengapa Rakyat Ogah Membantu Pemerintah

Pengamat Ini Beberkan Tujuh Alasan Mengapa Rakyat Ogah Membantu Pemerintah

DEMOCRAZY.ID - Seorang pengamat politik ekonomi Indonesia, Dr. Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa saat ini telah terjadi apa yang disebut fenomena masyarakat enggah membantu pemerintah. 


Adapun persoalan pokoknya, masyarakat tidak ingin membantu pemerintah yang hanya membatasi dirinya pada posisinya karena faktor kepercayaan/trust. 


Ia mengatakan bahwa jika Indonesia ingin memperbaiki perekonomiannya, maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah kepercayaan sosial.


“Nah itu keywoard-nya, trust, yang dalam buku saya, saya sebut social distrust. jadi kata kunci Indonesia untuk memperbaiki perekonomian sekarang, bangun dulu social trust-nya,” ucap Ichsanuddin Noorsy, Jumat, 8 Oktober 2021. 


“Kalau Anda maish menjalankan model seperti ini, Anda tidak sedang memperbaiki social trust, padahal sistem yang kemarin, sistem yang Anda tegakkan, itu terjadi social distrust, social disorder, social disobedience, itu yang saya sebut berkali-kali sejak era SBY,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Ichsanuddin Noorsy mengungkap ada tujuh oenyebab yang mengakibatkan munculnya social distrust masyarakat terhadap pemerintah. 


“Kalau saya di buku ‘Bangsa Terbelah’ ada tujuh poin, satu;penegak hukum yang berpihak, kedua;pemimpin yang adil, ketiga;orang kaya yang tidak mau berderma, keempat;orang cerdas cendikia yang kerjanya cuma mau dibayar,” ucapnya. 


“Jadi orientasi si orang-orang berilmu ini, apakah dia intelektual atau ulama yang jika tidak dibayar tidak mau mengeluarkan isi pikirannya,” tambahnya.


Ia kemudian melanutkan penyebab berikutnya, yakni orang miskin yang menjual kemiskinannya, perempuan yang vulgar. 


“Menunjukkan kehadirannya di publik, menampilkan kepentingan dirinya ke publik. Dia tidak malu menampilkan keinginannya untuk meraih tahta,” jelasnya. 


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada dua jenis perempuan, di mana mayoritas perempuan itu ada di ruang privat. 


“Perempuan itu ada dua ruang yakni ruang publik dan ruang privat,” tandasnya. 


“Di era sekarang, perempuan di ruang publik itu menampilkan hal sepert itu. Padahal, mayoritas perempuan itu ada di ruang privat. Sehingga tak hanya memunculkan syahwat bagi pria, tapi menimbulkan syahwat masing-masing yang kemudian menimbulkan masalah,” bebernya. 


Sementara itu, poin ketujuh yakni peran media massa. [Democrazy/terkini]