PANAS! Islah Barawi ke Novel Bamukmin: Jangan Bentak Saya! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 13 Oktober 2021

PANAS! Islah Barawi ke Novel Bamukmin: Jangan Bentak Saya!

PANAS! Islah Barawi ke Novel Bamukmin: Jangan Bentak Saya!

PANAS! Islah Barawi ke Novel Bamukmin: Jangan Bentak Saya!

DEMOCRAZY.ID - Perdebatan sengit terjadi antara Direktur Eksekutif Jaringan Moderat, Islah Barawi dengan Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin. Mereka berdebat soal peran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. 


Perdebatan di salah satu sesi tayangan Catatan Demokrasi tvOne itu diawali dengan argumen Novel yang menyinggung penggunaan angka 88 dan prestasi Densus. 


Novel menilai Densus tak berfungsi karena hanya memainkan narasi terorisme yang justru menyakiti umat Islam.


Bagi Novel, seharusnya Densus dioptimalkan dalam tugas pemberantasan gerakan separatis seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Operasi Papua Merdeka (OPM).


"Kita melihat dari nama Densus itu sendiri. Kemudian, pemberantasan justru separatis-separatis yang memberontak itu ancaman nyata bagi kita yang membahayakan keutuhan kita," kata Novel pada Rabu, 13 Oktober 2021.


Mendengar ucapan Novel, Islah pun heran dan mempertanyakan maksud lawan debatnya itu soal nama Densus.


"Mang nama Densus kenapa?" tanya Islah.


"Mohon maaf, jangan dipotong dulu," jawab Novel.


Novel melanjutkan bicaranya bahwa Densus saat ini diduga sudah dipakai untuk kepentingan politik. Ia menyampaikan demikian lantaran penangkapan Densus terhadap eks tokoh Front Pembela Islam (FPI) Munarman.


Novel masih bingung dengan penyebab Munarman ditangkap. Sebab, yang ia ketahui Munarman adalah sosok penggerak FPI untuk membantu masyarakat setiap ada bencana. 


Ia pun setuju bila Densus dianggap berbau Islamofobia. Kemudian, Novel menduga isu teroris sebagai fabrikasi dengan mencontohkan peristiwa yang dialami FPI pada 2010.


Islah pun coba memotong penjelasan Novel.


 "Begini, begini," ujar Islah.


"Mohon maaf, jangan dipotong dulu," ujar Novel dengan nada keras.


"Jangan bentak saya," kata Islah merespons dengan menunjuk ke arah Novel.


"Ya memang kenapa? Ini hak saya ngomong," ujar Novel.


"Saya sudah diberi waktu untuk ngomong," kata Islah.


Novel meminta agar Islah tak memotongnya. 


"Anda bicara, tidak saya potong," sebut Novel.


"Anda terlalu panjang (bicaranya)," sebut Islah.


"Anda juga panjang. Ini hak saya bicara," kata Novel lagi.


Islah menegaskan Novel banyak kekeliruan dalam bicara tentang Densus.


"Terlalu banyak kesalahan Anda. Jadi, saya harus potong," kata Islah.


Islah menjelaskan terkait angka 88 dalam Densus. Dia menegaskan tak ada kaitan antara jumlah bom Bali dengan angka 88 yang dipakai Densus.


"Jadi, begini. Nama Densus itu 88 tidak mengacu ke nama korban atau apa. Dia mengacu dari ATA, yang kemudian diplesetkan menjadi ei ti ekt, Anti Teror Act, itu singkatannya. Salah Anda!" ujar Islah.


Dia menambahkan tidak ada Densus dipakai untuk menyerang lawan politik. Ia bilang Densus itu dilahirkan untuk mengemban amanah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 terkait pemberantasan tindak pidana terorisme. 


Dengan aturan dalam Undang-Undang itu maka Densus bisa menangkap terduga teroris sebelum melakukan aksinya. Tapi, dengan alat bukti yang cukup.


Islah menyindir Novel yang keliru seperti seolah salah masuk ruangan.


"Saya kira Anda salah ruangan, salah studio. Atau jangan-jangan salah stasiun TV," sebut Islah.


"Oh, nggak. Ini nyata ini Islamofobia judulnya," jawab Novel.


Islah mengatakan Densus memungkinkan bisa menembak terduga teroris bila kondisinya genting. 


Menurut dia, Novel tak mengetahui bila 52 personel Densus tewas saat melaksanakan tugas.


"Anda tidak tahu bahwa ada 52 personel densus yang sampai saat ini yang tewas ketika melaksanakan tugas," ujar Islah.


Novel merespons dengan balik bertanya soal isu terorisme sebagai fabrikasi.


"Lalu bagaimana fabrikasi," kata Novel.


"Fabrikasi yang Anda bilang hanya dugaan. Jangan lempar kan dugaan itu ke sini," sebut Islah.


"Ya itu boleh saja. Itu kenyataan," kata Novel.


Menurut Islah, Munarman ditangkap Densus tidak ada hubungannya dengan FPI. 


"Murnaman ditangkap bukan karena FPI. Tapi, karena baiat," ujar Islah.


"Apa buktinya. Anda punya bukti?" tanya Novel.


"Oh, silakan. Sudah P21 bos. Sebentar lagi disidangkan. Ikuti sidangnya," tutur Islah.


"Buktikan, nanti kita buktikan di pengadilan," jawab Novel menimpali Islah.


Islah lagi-lagi bilang Munarman ditangkap tidak ada kaitan dengan FPI. 


"Dia melakukan baiat," ujarnya.


Novel tetap dengan argumennya bahwa penangkapan Munarman karena kepentingan politik. "Jadi, boleh dong saya pendapat seperti ini," tanya Novel.


"Boleh, silakan," kata Islah.


"Itu hak saya," tutur Novel.


"FPI tidak ada kaitan dengan Munarman. FPI sudah dibubarkan. Jangan salah sampeyan. Nggak mungkin kita seret-seret," ujar Islah.


Novel menimpali justru FPI menjadi korban seperti peristiwa pada 2010. Saat itu, menurut Novel tabligh akbar yang digelar FPI di beberapa lokasi seperti Cawang dan Pasar Rebo diteror.


"Begitu tabligh di Cawang. Begitu juga FPI Jakarta Barat di bom, bom molotov. Begitu juga FPI Pasar Rebo dibom. Mana peranan Densus? Itu sudah kita laporkan," kata Novel.


"Loh, begini. Anda harus bisa membedakan," ujar Islah.


"Kalau mau memerangi teror, semua harus diperangi, Jangan kita dibiarkan," kata Novel dengan menggebu-gebu.


Islah menerangkan bahwa yang ditangkap Densus bukan hanya orang Islam. 


"Ada pelaku bom di Serpong itu juga bukan Orang Islam," sebut Novel.


Menurut dia, soal Densus belum dilibatkan dalam pemberantasan OPM karena ada alasan tertentu seperti dikhawatirkan akan tumpang tindih.


"Di situ operasinya terlalu banyak. Yang kedua, Densus tidak pernah setuju dengan stigma terorisme di sana," kata Islah.


"KKB apa bedanya dengan teroris. Itu cuma pemanis bahasa saja," tutur Novel.


Mendengar perdebatan yang tak selesai, presenter Andromeda Mercury meminta Islah dan Novel bicara bergantian. Andromeda pun mempersilakan Islah untuk melanjutkan bicaranya. [Democrazy/viva]