Misteri Cahaya Terang yang Tiba-tiba Melesat dari Makam Bung Karno Menuju Candi Penataran | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 11 Oktober 2021

Misteri Cahaya Terang yang Tiba-tiba Melesat dari Makam Bung Karno Menuju Candi Penataran

Misteri Cahaya Terang yang Tiba-tiba Melesat dari Makam Bung Karno Menuju Candi Penataran

Misteri Cahaya Terang yang Tiba-tiba Melesat dari Makam Bung Karno Menuju Candi Penataran

DEMOCRAZY.ID - SEBERKAS cahaya terang muncul dari makam Proklamator RI Soekarno di Kota Blitar. 


Melalui tatapan mata batinnya, Baby Huwae menyaksikan fenomena ganjil itu bekerja. 


Baby Huwae seorang bintang film ternama. Pada medio 1960-an, publik tanah air mengenalnya demikian.


Namun Bung Karno lebih suka memanggilnya Lokita. Lokita Purnamasari. 


Dan Baby menyukainya. Sejak itu, nama pemberian Bung Karno tersebut, ia pakai sebagai nama barunya. 


Di malam tahun 1978. Cahaya itu muncul saat Baby menziarahi makam Bung Karno.


Baby bergegas datang ke Blitar setelah mendapat kabar makam Bung Karno akan dipugar. 


Proyek pemugaran langsung ditangani pemerintah pusat yang informasinya disampaikan resmi oleh Ali Moertopo, tangan kanan Presiden Soeharto. Pada tanggal 24 Januari 1978.


Di tengah perayaaan HUT Partai Demokrasi Indonesia di gedung Gelora Manahan Solo, Letjen Ali Moertopo dalam sambutannya mengatakan makam Bung Karno akan dipugar. 


Makam yang baru berusia sewindu (8 rahung). Rencana sekaligus pertanggungjawaban proyek pemugaran langsung datang dari Soeharto sebagai Presiden maupun pribadi.


Sementara begitu melihat cahaya yang keluar dari pusara Bung Karno, Baby sontak terpana. 


Entah pulung atau ndaru. Cahaya yang posisinya terbang itu tiba-tiba melesat ke arah Candi Penataran. 


Sebuah candi terbesar di Jawa Timur yang berada di wilayah Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Lokasinya sebelah Utara Makam Bung Karno.


"Alamat atau firasat apa gerangan ini?," Baby bertanya dalam hati seperti dikisahkan Andjar Any dalam "Misteri Mistik Bung Karno". 


Di lingkungan pergaulannya, Baby memang dikenal memiliki kemampuan metafisika. Baginya, pengalaman ganjil itu bukan pertama kalinya.


Pernah suatu ketika Baby berada di Istana Mangkunegaran Solo. Tiba-tiba batinnya menangkap suasana perkabungan. 


Situasi duka. Apa yang ia rasakan kemudian memperoleh jawaban. Tidak lama kemudian Gusti Puteri Mangkunegoro wafat.


Sementara usai menyaksikan cahaya terang yang meninggalkan makam Bung Karno, hati Baby mendadak sedih. Rasa duka yang datang tiba-tiba yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Ada perasaan kehilangan. Baby lalu bersemedi (meditasi) mencari jawaban.


Dengan caranya, Baby mengatakan mengetahui bahwa makam Bung Karno di Blitar itu telah kosong. 


"Bukan dalam arti kosong lahiriah, tetapi secara batiniah," Andjar Any dalam "Misteri Mistik Bung Karno".


Yang Baby rasakan, roh Bung Karno telah berpindah ke Batu Tulis Bogor, dekat Istana Hing Puri Bima Sakti (Istana Batu Tulis) Bogor. 


Spekulasi sontak berkembang dan sekaligus menghubungkan dengan surat wasiat yang pernah ditulis Bung Karno.


Soal kematian dan pemakaman, dalam surat wasiatnya 6 Juni 1962, Bung Karno menulis : Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon rindang....dan seterusnya. 


Surat wasiat ditujukan kepada keluarga. Surat wasiat tanggal 16 September 1964, yang ditulis di Bogor, juga menulis pesan serupa.


Pesan surat wasiat yang ditulis Bung Karno pada 24 Mei 1965 lebih jelas : Tempat kuburan bersama itu telah saya tentukan, yaitu di Kebun Raya Bogor dekat bekas kolam permandian yang membukit. 


Kepada jurnalis Cindy Adam dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno kembali mengutarakan wasiat yang sama.


Bung Karno mengatakan tidak ingin dikuburkan seperti Gandhi (Mahatma Gandhi). Baginya kuburan Gandhi dengan berbagai hiasan dari Pandit Jawaharlal Nehru, terlalu mewah. 


Bung Karno menginginkan makamnya nanti berada di bawah pohon rindang, dikelilingi alam sekitar yang indah, di samping sungai serta di antara bukit yang berombak-ombak.


"Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di sekitar Kota Bandung di tengah daerah Priangan yang sejuk dan nyaman, berlembah dan bergunung serta subur, di mana aku pertama kali bertemu petani Marhaen," kata Bung Karno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.


Didahului memburuknya kesehatan pada 20 Juni 1970. Sesuai komunike medis Tim Dokter yang diketuai Prof Dr Mahar Mardjono, tepat pukul 07.00 Wib tanggal 21 Juni 1970, Bung Karno wafat. 


Saat jenazah masih disemayamkan di Wisma Yaso, sejumlah tokoh berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.


Terlihat hadir Jendral AH Nasution, Buya Hamka, Prof Sumitro dan Jendral Sarwo Edi. 


Dari keluarga tampak mantan istri Bung Karno, Inggit Garnasih yang langsung datang dari Bandung. 


Kemudian Haryati, Yurike Sanger, Ratna Sari Dewi yang duduk bersebelahan dengan Hartini. [Democrazy/sindo]