Jam Kiamat yang Dibuat Ilmuwan Tiba-tiba Berhenti Berdetak, Pertanda Apa? | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 26 Oktober 2021

Jam Kiamat yang Dibuat Ilmuwan Tiba-tiba Berhenti Berdetak, Pertanda Apa?

Jam Kiamat yang Dibuat Ilmuwan Tiba-tiba Berhenti Berdetak, Pertanda Apa?

Jam Kiamat yang Dibuat Ilmuwan Tiba-tiba Berhenti Berdetak, Pertanda Apa?

DEMOCRAZY.ID - Jam Kiamat atau Doomsday Clock dilaporkan tidak bergerak. Pada tahun 2021 lembaga bernama Bulletin of the Atomic Scientist (BAS) menyetel jam itu pada 100 detik hingga tengah malam.

\

Artinya, menurut ilmuwan yang membuat jam kiamat itu, bumi masih berada di ambang kiamat pada 2021 akibat pandemi COVID-19, potensi perang nuklir, perubahan iklim, dan hoax yang merajalela.


Jam Kiamat sendiri adalah jam simbolis yang mewakili kemungkinan risiko bencana global buatan manusia. 


Simbol ini dikelola sejak tahun 1947 oleh anggota BAS di University of Chicago, Amerika Serikat (AS).


BAS sendiri adalah sebuah organisasi yang menilai kemajuan ilmu pengetahuan dan risikonya pada manusia. 


Mereka membuat Jam Kiamat sebagai pengingat kepada umat manusia agar tidak melakukan kerusakan yang menghancurkan Bumi.


Para peneliti yang tergabung dalam BAS menetapkan jarum Jam Kiamat tahun ini masih sama dengan tahun 2020, yaitu berjarak 100 detik menuju tengah malam atau kiamat.


Itu artinya, jam simbolis tersebut menunjukkan titik terdekat manusia dengan kiamat. 


Pada 2019, posisi jam kiamat adalah 2 menit menuju tengah malam. Tengah malam atau pukul 00.00 adalah perlambang akhir zaman.


Mengutip CBS News, President of BAS Rachel Bronson mengatakan jarum jam kiamat masih di posisi 100 detik menuju tengah malam, titik terdekat dengan tengah malam atau kiamat.


Ada banyak masalah di dunia ini yang menjadi perhitungan Doomsday Clock. Misalnya, bahaya nuklir dan perubahan iklim, serta disinformasi dunia maya serta teori konspirasi yang bisa membuat perang nuklir.


Ia mengatakan pandemi COVID-19 yang mematikan dan menakutkan menjadi peringatan bersejarah, ilustrasi nyata bagaimana negara-negara dan organisasi internasional kewalahan mengelola ancaman nyata yang bisa mengakhiri peradaban seperti senjata nuklir dan perubahan iklim.


Pandemi Covid-19 telah merenggut nyawa lebih dari 4,5 juta orang di dunia, dan membuat sistem kesehatan dunia lumpuh. 


Hingga kini, total kasus Covid-19 mencapai 244,08 juta kasus di seluruh dunia.


Jam paling lama dari tengah malam adalah tahun 1991 yakni 17 menit sebelum tengah malam. 


Ini terjadi saat Presiden Amerika Serikat (AS) George H.W Bush dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev mengumumkan pengurangan pada persenjataan nuklir di negara masing-masing.


Jarum Jam Kiamat diatur ulang setiap tahun dan keputusan ini dilakukan oleh anggota dewan BAS, yang di dalamnya termasuk 13 orang ahli penerima Nobel. [Democrazy/kmpr]