Ade Armando: Menegakkan Syariat Islam di Indonesia Itu Berbahaya! | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 28 Oktober 2021

Ade Armando: Menegakkan Syariat Islam di Indonesia Itu Berbahaya!

Ade Armando: Menegakkan Syariat Islam di Indonesia Itu Berbahaya!

Ade Armando: Menegakkan Syariat Islam di Indonesia Itu Berbahaya!

DEMOCRAZY.ID - Pegiat media sosial dan pakar komunikasi, Ade Armando membeberkannya alasannya menolak penegakan syariah Islam di Indonesia. 


Bagi Ade Armando, kewajiban menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia. 


Hal itu ia sampaikan dalam video berjudul “Saya Menolak Syariat Islam Agar Indonesia Selamat” yang tayang pada Rabu, 27 Oktober 2021.


Awalnya, Ade Amando menyinggung bahwa beberapa hari yang lalu, ia membuat video yang memuat argumen mengapa ia tak percaya umat Islam harus menjalankan syariat Islam. 


Ia lalu menjawab pertanyaan yang muncul dari sebagian orang terkait mengapa ia merasa perlu membuat video tersebut.


Ade Armando menjawab bahwa ia merasa harus bicara untuk melawan melawan orang-orang yang saat ini sedang mengkampanyekan perlunya atau bahkan wajibnya muslim Indonesia menerapkan syariat Islam. 


“Saya menganggap upaya untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia adalah upaya yang berbahaya,” tegasnya.


Dosen Universitas Indonesia ini lalu menegaskan bahwa sikapnya soal syariat Islam itu tentu sangat bisa dikritik.


Dalam artian, orang lain bisa saja tidak setuju dengan Ade Armando, tapi ia juga bisa tidak setuju dengan orang lain tersebut. 


“Dan adalah kewajiban saya untuk menyampaikan pandangan bahwa kewajiban bagi umat Islam untuk menegakkan syariah Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia,” tegasnya. 


Sebelum membahas lebih lanjut, Ade Armando terlebih dahulu menjelaskan definisi syariah Islam yang ia gunakan. 


Ia merujuk defisini di Wikipedia bahwa syariah berisi hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat manusia, baik muslim maupun non-muslim. 


Selain berisi hukum dan aturan, lanjut Ade Armando, syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. 


“Para pendukung syariah percaya bahwa syariat Islam merupakan panduan integral, menyeluruh, dan sempurna terhadap seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan di dunia ini,” jelasnya. 


Para pendukung syariah, kata Ade Armando, juga percaya bahwa jika Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. 


Mereka, lanjutnya, juga percaya bahwa umat Islam hanya boleh menetapkan hukum sendiri jika Allah dan Nabi Muhammad belum menetapkan ketentuannya terkait hal tersebut. 


Pada kesimpulannya, sumber hukum Islam menurut para penegak syariah adalah Alquran, ucapan dan teladan Nabi Muhammad, serta kesepakatan para ulama otoritatif di generasi-generasi sejarah Islam. 


Sumber hukum tambahan lainnya, lanjut Ade Armando, yakni Ijtihad yang merupakan upaya sungguh-sungguh manusia untuk memutuskan suatu perkara dengan menggunakan akal pikiran dan pertimbangan matang. 


“Namun, ijtihad itu hanya bisa digunakan terkait perkara yang belum diatur dalam Alquran dan Hadis,” ungkapnya. 


Jadi, kata Armando, mereka yang sungguh-sungguh percaya akan supremasi syariah di dunia ini sangat percaya bahwa umat Islam wajib menjalankan perintah-perintah Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. 


Hukum dan aturan itu, lanjutnya, termuat dalam bahasa yang sangat eksplisit di dalam Alquran dan Hadis. 


Cakupan wilayah yang diatur pun, menurut Ade Armando, sangat luas, dari kewajiban salat sampai ke hukuman terhadap pelaku kriminal, dan lain-lain. 


“Buat saya, bila aturan-aturan dan hukum itu kini harus kita jalankan di Indonesia di abad ke-21, itu akan menimbulkan banyak masalah,” jelasnya. 


Ade Armando lalu memberikan contoh ekstrim soal aturan atau syariat yang menurutnya berbahaya jika harus dijalankan di masa kinangkat adalah izin bagi laki-laki. 


Ia menyoroti soal perbudakan, di mana seorang laki-laki diizinkan untuk meniduri budak perempuannya tanpa harus ada ikatan pernikahan. [Democrazy/terkini]