Ustadz Felix Siauw: Narasi Radikal-Anti NKRI-Anti Pancasila Baru Muncul di Era Jokowi, Kenapa? | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 29 September 2021

Ustadz Felix Siauw: Narasi Radikal-Anti NKRI-Anti Pancasila Baru Muncul di Era Jokowi, Kenapa?

Ustadz Felix Siauw: Narasi Radikal-Anti NKRI-Anti Pancasila Baru Muncul di Era Jokowi, Kenapa?

Ustadz Felix Siauw: Narasi Radikal-Anti NKRI-Anti Pancasila Baru Muncul di Era Jokowi, Kenapa?

DEMOCRAZY.ID - Penceramah berdarah Tionghoa, Ustad Felix Siauw menilai, sejumlah narasi dan tuduhan negatif seperti anti NKRI, anti Pancasila, Intoleransi, radikal, dan lainnya mulai muncul ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden RI pada 2014.


Ustadz Felix akui, di era Megawati Soekarnoputri menjadi presiden hingga era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sejumlah narasi dan tuduhan negatif itu tidak pernah terdengar. 


Felix sendiri memeluk Islam pada tahun 2002 dan menjadi pendakwah.


“2002 itu saya mulai berdakwah. Dari tahun 2002 sampai 2015 nggak ada sebutan radikal, anti NKRI, seperti yang sekarang, anti pancasila dan segala macamnya. Itu belum ada semua,” kata Felix Siaw dikutip kanal YouTube Refly Harun, Rabu (29/9/2021).


Felix bilang, narasi dan tuduhan-tuduhan itu semakin kuat terdengar pada tahun 2016 saat itu jelang Pilkada DKI Jakarta.


“Nah mendadak di tahun 2016 ini mulai muncul ungkapan-ungkapan radikalisme, intoleransi, ini baru muncul seolah ini masalah bernegara yang lebih besar,” ujarnya.


Mantan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia ini mengaku bingung dengan munculnya tuduhan itu. 


Sebab di era sebelumnya dia tidak pernah dituduh radikal dan intoleran.


“Ketika itu saya bingung dengan tuduhan itu. Kenapa kalau Felix Siauw intoleran, radikal, kenapa tuduhan ini baru muncul 2016,” katanya


“Berarti kalau kita lihat ada sesuatu yang berbeda, di antara tahun 2016 ke atas dan tahun 2016 ke bawa,” kata Felix.


Di menilai, narasi itu terus ada sepanjang kepemimpinan Presiden Jokowi hingga periode kedua saat ini. 


Lebih lanjut dia menilai bahwa narasi-narasi negatif itu punya kaitan dengan politik.


“Tahun 2016 sampai sekarang, narasi itu terus masih dijaga. Jadi artinya ada keterkaitan antara narasi itu dengan politik yang dibangun,” tuturnya. [Democrazy/fajar]