Sebut Kondisi Era Jokowi Lebih Parah dari Era SBY, Amien Rais: China Sedang Melabrak Nilai-nilai Demokrasi! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 26 September 2021

Sebut Kondisi Era Jokowi Lebih Parah dari Era SBY, Amien Rais: China Sedang Melabrak Nilai-nilai Demokrasi!

Sebut Kondisi Era Jokowi Lebih Parah dari Era SBY, Amien Rais: China Sedang Melabrak Nilai-nilai Demokrasi!

Sebut Kondisi Era Jokowi Lebih Parah dari Era SBY, Amien Rais: China Sedang Melabrak Nilai-nilai Demokrasi!

DEMOCRAZY.ID - Ahli hukum tata negara, Refly Harun menilai Indonesia pada era pemerintahan Soekarno dan Soeharto seperti negara yang sedang terjebak di dalam labirin.


“Kita kok seperti terjebak pada lingkaran yang sama ya seperti labirin. Kita enggak bisa kemana-mana,” ujar Refly Harun melalui kanal YouTube Refly Harun, Minggu, 26 September 2021.


“Ketika Bung Karno berkuasa dia begitu, ketika Pak Harto berkuasa dia begitu,” sambungnya.


Refly merasa jika kondisi tersebut kembali tampak di era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).


Menurutnya, hal itu dapat dibuktikan dengan perbandingan kondisi antara di era pemerintahan Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).


Ia menilai kondisi di era pemerintahan Jokowi lebih mengkhawatirkan ketimbang SBY.


“Lalu tiba-tiba Presiden Jokowi begitu juga. Padahal sebelumnya, SBY menjabat selama 10 tahun juga, tapi tidak semengkhawatirkan sekarang,” ungkap Refly.


Walaupun begitu, Refly menekankan bahwa pernyataan itu tidak memiliki maksud untuk menurunkan Jokowi.


“Kita disini tidak berbicara soal menurunkan Pak Jokowi. Kita disini berbicara mengenai hal-hal yang sifatnya konstitusional,” jelasnya.


Menyoroti soal itu, Ketua Umum Partai Ummat, Amien Rais pun langsung menyinggung soal kondisi China saat ini.


Amien menduga jika China saat ini sedang berusaha melabrak nilai-nilai demokrasi barat.


“Jadi sekarang ini China sedang melabrak nilai-nilai demokrasi barat,” ujar Amien.


“Nilai-nilai China itu, selama pimpinannya bisa mengenyangkan rakyatnya dan merubah ekonominya, enggak akan ada yang namanya demokrasi,” tambah dia. [Democrazy/galamed]