Nilai Pemerintah Tak Tegas Sikapi Potensi Bangkitnya PKI, Rocky Gerung: Terkesan Dibiarkan, Malah Sibuk Ngurusin Radikalisme | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 27 September 2021

Nilai Pemerintah Tak Tegas Sikapi Potensi Bangkitnya PKI, Rocky Gerung: Terkesan Dibiarkan, Malah Sibuk Ngurusin Radikalisme

Nilai Pemerintah Tak Tegas Sikapi Potensi Bangkitnya PKI, Rocky Gerung: Terkesan Dibiarkan, Malah Sibuk Ngurusin Radikalisme

Nilai Pemerintah Tak Tegas Sikapi Potensi Bangkitnya PKI, Rocky Gerung: Terkesan Dibiarkan, Malah Sibuk Ngurusin Radikalisme

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyoroti umat Islam yang kerap dipojokkan dengan isu radikalisme namun PKI terkesan dibiarkan.


Rocky Gerung mengatakan PKI merupakan sejarah yang tak dapat dilupakan apalagi untuk dimaafkan, karena banyak umat Islam saat itu (1965) yang merasa menjadi korban kekejaman PKI.


Rocky Gerung membenarkan terhadap pernyataan dari kalangan umat Islam yang kerap dituduh menyebarkan paham radikalisme dan terus-menerus dikejar oleh pihak-pihak dalam kekuasaan, namun pemerintah seolah tak tegas dalam menghadapi potensi bangkitnya kembali PKI.


"Dia (PKI) tidak bisa dilupakan apalagi dimaafkan, karena belum ada keputusan yang final dan diungkapkan berkali-kali. Sebaliknya, umat Islam merasa 'Lho kok yang dituduh radikal adalah kita, yang diuber-uber adalah kita?'," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Senin, 27 September 2021.


Rocky Gerung menilai kekuasaan terlalu berlebihan dalam menyoroti isu radikalisme keagamaan, bahkan pemerintah dinilai cenderung memojokkan umat Islam dalam berbagai kebijakannya.


Dia juga mengatakan pemerintah cenderung kurang menyorot bahkan terkesan membiarkan potensi bangkitnya kembali PKI atau paham komunisme yang sesungguhnya berpotensi menimbulkan ketegangan baru.


"Jadi, tensi kekuasaan itu terlalu menyorot radikalisme agama terutama Islam, kurang menyorot revivialism of the idea of communism tuh. Dan itu yang sebetulnya menimbulkan ketegangan baru," ujarnya.


Rocky Gerung mengatakan, diorama Penumpasan G30S PKI yang mendadak hilang dari Museum Kostrad merupakan bagian dari sejarah kelam yang akan selalu diingat oleh umat Islam sebagai perjuangan memperoleh keadilan.


Ketika itu, umat Islam dan PKI berseteru secara politis bahkan hingga menimbulkan banyak korban jiwa, terlebih dengan banyaknya tokoh ulama yang meninggal dunia akibat dibunuh oleh sejumlah tentara PKI dengan sadis.


"Yang ada di Kostrad itu adalah bagian yang akan diingat oleh umat Islam sebagai perjuangan menegakkan pikiran-pikiran keadilan, dan memang kita tahu pada waktu itu terjadi eskalasi politik yang melibatkan pertarungan (duel) antara umat Islam dan komunisme," katanya.


Rocky Gerung memprediksi bahwa ketegangan antara umat Islam dengan penguasa akan kembali memuncak jika umat Islam terus-menerus dipojokkan dengan isu radikalisme, khususnya oleh buzzer pro pemerintah.


"Kalau sekarang umat Islam dipojokkan oleh kekuasaan, saya sebut dipojokkan karena memang sinyalnya begitu, buzzer-nya kerjaannya begitu, ketegangan itu akan memuncak lagi tuh," ujar dia.


Mengenai pernyataan Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung mengatakan bahwa mantan Panglima TNI itu telah menyampaikan keterangannya dengan penuh kehati-hatian bahkan menggandeng beberapa konsultan sejarah.


Pasalnya, hilangnya diorama Penumpasan G30S PKI di Museum Kostrad masih menjadi misteri karena muncul dugaan bahwa diorama tersebut sengaja dihilangkan oleh pihak-pihak tertentu secara struktural.


"Pak Gatot memang dengan hati-hati mengungkapkan itu, tapi kita juga tahu bahwa Pak Gatot punya konsultan-konsultan akademis (konsultan sejarah) supaya gak masuk ke dalam isu yang berapi tapi kita nggak bahas lagi soal yang saya sebut poliis, yaitu apakah penghilangan di Kostrad itu sesuatu yang betul-betul struktural atau kepentingan seseorang atau beberapa kelompok yang sekarang sedang berkuasa," tuturnya. [Democrazy/kabes]