Nah Kan! Media Asing Cium 'Kejanggalan' Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Versi Data Rezim Jokowi | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 08 September 2021

Nah Kan! Media Asing Cium 'Kejanggalan' Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Versi Data Rezim Jokowi

Nah Kan! Media Asing Cium 'Kejanggalan' Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Versi Data Rezim Jokowi

Nah Kan! Media Asing Cium 'Kejanggalan' Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Versi Data Rezim Jokowi

DEMOCRAZY.ID - Media asing ternama asal Inggris, The Economist, memberitakan jika ada dugaan kejanggalan terkait data kematian akibat Covid-19 di Indonesia.


Data dari rezim Presiden Jiko Widodo (Jokowi), tercatat ada 135.861 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang meninggal dunia akibat Covid-19.


Sementara berdasarkan data dari The Economist, terdapat 280 ribu sampai 1,1 juta orang WNI yang meninggal dunia akibat Covid-19.


Artinya, angka kematian akibat Covid-19 versi The Economist itu 500 persen atau 5 kali lebih besar dari angka kematian yang disajikan rezim Presiden Jokowi.


The Economist menyebut jika angka yang didapat bisa saja berbeda dengan cara hitung pemerintah dalam merekap data.


Permodelan The Economist berdasar dari asumsi data resmi dari pemerintah sudah akurat.


Akan tetapi, di dalam perjalanan seiring dengan perkembangan kasus, pemerintah di suatu negara bisa saja mengubah indiktor dan definisi yang disebut kasus kematian akibat Covid-19.


Jika terjadi perubahan tersebut, The Economist menjelaskan bisa saja perhitungan model menjadi tidak reliabel.


Faktor lain, negara yang melaporkan angka kematian secara rutin dan relatif akurat adalah mereka berpendapatan tinggi dan menengah.


Sementara permodelan The Ecconomist menjadi kurang akurat jika tiba-tiba terjadi konflik atau bencana alam.


The Economist menyajikan data tentang berapa banyak jumlah korban meninggal akibat Covid-19.


"Jawabannya tergantung data yang tersedia dan tergantung bagaimana Anda mendefinisikan penyebab kematian," ungkap redaksi pada tulisan berjudul berjudul The Pandemic's True Death Toll itu.


Dalam tulisannya, redaksi mengungkap ada perhitungan di mana sebenarnya meninggal akibat Covid-19, akan tetapi tidak menjalani tes maka tidak masuk hitungan resmi.


"Tidak sedikit pula yang dinyatakan meninggal karena Covid-19, padahal memiliki kondisi penyakit lain," katanya.


Kemudian ada juga yang sudah meninggal, sementara hasil tes masih menunggu lab, apakah masuk hitungan atau tidak, tergantung regulasinya.


"Ada kondisi yang membuat semakin rumit. Bagaimana orang yang meninggal karena terlambat mendapatkan penanganan di rumah sakit?" tutur redaksi pada tulisan tersebut. [Democrazy/pkr]