Menilik Kembali 'Gebrakan' Soeharto-Sarwo Edhie Melibas PKI | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 28 September 2021

Menilik Kembali 'Gebrakan' Soeharto-Sarwo Edhie Melibas PKI

Menilik Kembali 'Gebrakan' Soeharto-Sarwo Edhie Melibas PKI

Menilik Kembali 'Gebrakan' Soeharto-Sarwo Edhie Melibas PKI

DEMOCRAZY.ID - Patung-patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution di Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, dibongkar. 


Pembongkaran ini merupakan inisiatif mantan Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution.


Soeharto, Sarwo Edhie, dan Nasution termasuk tiga tokoh kunci dalam pemberantasan PKI yang dituding sebagai dalang gerakan G30S tahun 1965. 


Cerita ketiga tertuang dalam buku buku 'Sarwo Edhie dan Peristiwa 1965' oleh tim Buku TEMPO.


G30S, yang melibatkan beberapa pentolan PKI, dianggap sebagai sebuah kudeta di tubuh Angkatan Darat dan pemerintahan Sukarno. Peristiwa 55 tahun lalu itu menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Kudeta gagal itu menyebabkan gugurnya sejumlah perwira tinggi AD. 


Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) dan Mayjen TNI Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya. 


Sementara itu, Jenderal TNI Abdul Haris (AH) Nasution berhasil meloloskan diri walau kakinya terkena peluru.


Usai gerakan 30 September mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi, Nasution mengirimkan perintah kepada Soeharto, Martadinata, dan Joedodihardjo. Sebab, dia yakin saat itu Presiden Sukarno sudah diculik. 


Dia meminta ABRI memulihkan keamanan. Nasution tiba sekitar sore hari di markas Kostrad. 


Di sana ia mendapatkan pertolongan pertama usai kakinya tertembak. Setelah keadaan Jakarta aman, Soeharto dan Nasution membahas situasi darurat ini.


Langkah Pemberantasan PKI


Selanjutnya, kisah pemburuan anggota dan pimpinan PKI oleh Sarwo Edhie Wibowo dimulai pada 1 Oktober 1965. 


Ia didatangi oleh Mayor Subardi, yang tidak lain adalah ajudan Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.


Di sana, Sarwo Edhie mendengar semua cerita tragis yang menimpa Jenderal Yani. Segera ia mengumpulkan para perwira di rumahnya untuk menghadap secara bergantian. 


Bahkan, untuk memastikan kekuatan, ia juga menarik seluruh pasukan yang sedang mengikuti latihan upacara peringatan Hari ABRI di Senayan.


Setiba di lokasi, para perwira membentuk pertahanan di jalan Jakarta-Bogor. 


Mereka pun menunggu berita melalui Radio Republik Indonesia dan hasilnya ada Gerakan 30 September atau G30S/PKI dan pembentukan Dewan Revolusi yang artinya terjadi kudeta.


Mendengar hal itu, Kapten Herman Sarens Sudiro datang dan membawa surat ke hadapan Sarwo Edhie yang ditulis oleh Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.


Sarwo Edhie Wibowo dan Herman pun menemui Soeharto di Markas Kostrad. 


Di sana, mereka membahas situasi dan pengamanan tempat-tempat vital. Walaupun belum ada perintah dari Soeharto, Sarwo Edhie meminta agar pasukannya menuju ke Kostrad.


Mereka pun merebut Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyiarkan berita. 


Begitu pula Bandara Halim Perdanakusuma yang disinyalir sebagai pusat latihan para anggota PKI.


Setelah proses penemuan jenazah para jenderal di Lubang Buaya, Sarwo Edhie pun bertugas memburu seluruh anggota dan kader PKI. Ia berkeliling Jawa dan Bali berbulan-bulan lamanya.


Perburuan ini tak lepas dari keikutsertaan pemuda Nahdlatul Ulama (NU). 


Sarwo Edhie Wibowo diketahui juga melatih para pemuda NU sebagai ujung tombak operasi penangkapan basis-basis PKI. [Democrazy/detik]