Mencekam! Begini Penuturan Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Kedung Kopi Solo | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 30 September 2021

Mencekam! Begini Penuturan Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Kedung Kopi Solo

Mencekam! Begini Penuturan Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Kedung Kopi Solo

Mencekam! Begini Penuturan Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Kedung Kopi Solo

DEMOCRAZY.ID - Sejarah kelam pembantaian keji yang dilakukan PKI terjadi di sejumlah daerah, salah satunya di Kota Solo, Jawa Tengah. 


Di Kota Bengawan, ada salah satu lokasi yang menjadi saksi bisu peristiwa berdarah itu pada tahun 1965 yakni di kawasan Kedung Kopi.


Lokasinya ada di bibir Bengawan Solo di Kelurahan Pucangsawit, Jebres. 


Sedikitnya ada 23 korban yang dihabisi oleh PKI dengan keji tepatnya di malam tanggal 22 Oktober 1965.


Hal ini sebagaimana dituturkan oleh seorang saksi kekejaman PKI yakni Usman Amirodin. 


Kakek berusia 82 tahun itu masih ingat betul bagaimana mencekamnya Kota Solo pada bulan Oktober.


"Sejak adanya informasi mengenai pembunuhan para jenderal 30 September yang katanya (dilakukan) Dewan Revolusi, keesokan harinya baru tahu kalau yang melakukan itu adalah PKI. Kota Solo kondisinya mencekam, ini terjadi mulai 1-22 Oktober 1965," ujar Usman saat ditemui di rumahnya di Laweyan, Kamis (30/9/2021).


Puncaknya yakni pada Jumat 22 Oktober 1965. Pada sore hari sejumlah pemuda melakukan aksi demonstrasi di pusat kota yakni di kawasan Nonongan. 


Selain aksi, pemuda juga membakar rumah dan toko-toko milik PKI atau pun yang pro PKI.


"Kemudian datang oknum aparat yang meminta kelompok itu berkumpul ke Balai Kota Solo sembari menyampaikan bahwa permasalahan ini sudah selesai," katanya.


Tanpa berpikir panjang, sekelompok pemuda yang melakukan aksi di sore hari itu mengikuti petunjuk dari aparat tersebut dan berbondong-bondong pergi ke arah balai kota.


Namun, sesampainya di Gladag, tepatnya di depan gereja, dari arah timur ada tembakan membabi-buta mengarah pada kelompok yang diikutinya. 


Sontak, para peserta aksi lari kocar kacir berusaha menyelamatkan diri. 


Yang ada di barisan depan pun tidak sempat mengelak dari tembusan peluru tajam yang mengarah padanya.


"Waktu itu saya berada di barisan belakang dan berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi di percetakan yang terkenal waktu itu sekarang (gedung) BCA. Ada yang meninggal di lokasi kalau tidak salah enam atau tujuh orang," ungkapnya.


"Ternyata itu hanya jebakan, waktu itu kami belum berpengalaman. Apalagi yang menyuruh dari militer dan bisa dipercaya," sambung dia.


Kondisi waktu itu dikatakan penulis buku 'Solo Berdarah' itu begitu mencekam. 


Bahkan dirinya tidak berani keluar dari persembunyiannya sebelum kondisi benar-benar aman.


Dia melihat bagaimana lalu lalang peluru itu kelas terlihat di depan matanya. 


Dia menggambarkan desingan peluru itu layaknya kembang api yang dilontarkan.


Barulah setelah dia memastikan kondisi aman, Usman kembali ke rumahnya di Kusumoyudan, Keprabon. 


Waktu itu dia mengungkap PKI di Solo sangat kuat, karena wali kotanya waktu itu, Utomo Ramelan, juga seorang PKI.


"Di malam harinya korban yang tewas ditembak di Gladag dibawa ke Kedung Kopi. PKI juga melakukan penghadangan di timur Pasar Gede dan menangkap sejumlah orang dan dibawa juga ke Kedung Kopi," ungkapnya.


Mereka yang tertangkap, kata Usman, disiksa dan dibunuh di Kedung Kopi. 


Kekejaman PKI terlihat ketika mengetahui kondisi para korban begitu memilukan karena mendapat berbagai penyiksaan.


Totalnya ada 23 korban kekejian PKI yang dibantai di Kedung Kopi. 


Dari jumlah tersebut, 22 diantaranya merupakan warga Solo dan satu orang lainnya merupakan warga Klaten.


Nama-nama korban pembantaian PKI seperti ditulis di buku 'Solo Berdarah' di antaranya Soeyatno, Munawi, Ali Imron, Soemowo, Djoko Sasono, Soekamto, M Basrowi.


Selain itu juga M Miftah, Bachrum, Basoeki, Permadi, Soegiarto, Soemarko, Soeparno, Salim Bin A Sungkar, Abdul Khanan, Sartono, Antonius Soetopo, Soegeng, Alwi Hasan, Soejadi, Moeharto dan warga Klaten bernama Soetrisno.


Usman menambahkan, korban-korban yang meninggal keesokan harinya dibawa ke rumah sakit yang sekarang bernama RSUD dr Moewardi, Solo. 


Selanjutnya, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dilakukan pemakaman.


"Usai peristiwa itu, kami bergantian berkuasa dari nasionalis dan agamis. Kami ganti yang mencari keberadaan para PKI, dan saya juga menunjukkan tetangga yang PKI," tuturnya. [Democrazy/detik]