Letjen Dudung Gunakan 'Alasan Agama' Soal Diorama G30S PKI, Refly Harun: Rezim Sekarang Ingin 3 Sosok Ini Hilang dari Ingatan Sejarah! | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 29 September 2021

Letjen Dudung Gunakan 'Alasan Agama' Soal Diorama G30S PKI, Refly Harun: Rezim Sekarang Ingin 3 Sosok Ini Hilang dari Ingatan Sejarah!

Letjen Dudung Gunakan 'Alasan Agama' Soal Diorama G30S PKI, Refly Harun: Rezim Sekarang Ingin 3 Sosok Ini Hilang dari Ingatan Sejarah!

Letjen Dudung Gunakan 'Alasan Agama' Soal Diorama G30S PKI, Refly Harun: Rezim Sekarang Ingin 3 Sosok Ini Hilang dari Ingatan Sejarah!

DEMOCRAZY.ID - Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen Dudung Abdurachman buka suara soal hilangnya patung diorama G30S PKI di Museum Dharma Bakti di Markas Kostrad.


Letjen Dudung mengatakan ketiga patung tersebut dibongkar atas permintaan Pangkostrad terdahulu, sekaligus penggagas patung diorama G30S PKI, Letjen (Purn) Azym Yusri Nasution. AY Nasution disebut Dudung merasa berdosa karena telah membuat patung-patung itu menurut keyakinan agamanya.


Menanggapi hal ini, pengamat politik Refly Harun menjelaskan terkadang ada sejarah yang tidak mau ditonjolkan oleh rezim tertentu karena dianggap tidak menguntungkan.


Rezim saat ini menurut Refly, tidak menyukai ketiga tokoh dalam patung diorama G30S PKI yang dibongkar. Dan lebih menonjolkan sisi sejarah dari Presiden Pertama RI, Sukarno.


Sementara Ketiga sosok yang dimaksud yakni Presiden Kedua RI Soeharto, Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo, dan Jenderal AH Nasution, yang patungnya dibongkar atas permintaan AY Nasution.


Refly juga menyinggung adanya upaya menghilangkan ketiga sosok tersebut dari ingatan sejarah oleh pemerintah saat ini.


"Kenapa dihilangkan, ya karena ada tiga sosok yang tidak disukai oleh pemerintahan saat ini, karena tiga sosok ini adalah sosok yang mau dihilangkan dari ingatan sejarah oleh rezim ini. Karena tahun 65 itu justru tahun kejatuhannya sosok yang sangat dikuatkan di sini," ujar Refly dalam video di kanal Youtube Refly Harun.


Dalam videonya Refly menjelaskan peran Presiden Soeharto, Letjen Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution dalam membangun masa order baru, hingga Bung Karno yang dimakzulkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada saat itu.


Ahli hukum tata negara ini menilai secara objektif dalam sejarah tidak boleh ada bagian-bagian yang dihilangkan terkait peran seseorang atas jasanya. [Democrazy/galamed]