Geger Kadus di Batang Gantung Diri, Tinggalkan Wasiat Sebut Dana PKH Telah Habis Dipakai Sewa PSK dan Pemandu Lagu | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 15 September 2021

Geger Kadus di Batang Gantung Diri, Tinggalkan Wasiat Sebut Dana PKH Telah Habis Dipakai Sewa PSK dan Pemandu Lagu

Geger Kadus di Batang Gantung Diri, Tinggalkan Wasiat Sebut Dana PKH Telah Habis Dipakai Sewa PSK dan Pemandu Lagu

Geger Kadus di Batang Gantung Diri, Tinggalkan Wasiat Sebut Dana PKH Telah Habis Dipakai Sewa PSK dan Pemandu Lagu

DEMOCRAZY.ID - Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. 


Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental

===

Warga di Kecamatan Blado, Batang, Jawa Tengah digegerkan dengan kabar seorang kadus yang nekat gantung diri. 


Pria itu juga meninggalkan wasiat soal penggunaan uang program keluarga harapan (PKH) yang sudah dia gunakan foya-foya.


Kadus itu meninggalkan beberapa tumpukan surat wasiat. Surat wasiat itu dia tulis di buku pribadinya yang ditemukan warga di sebelah rumah kosong yang menjadi lokasi korban gantung diri.


"DUIT WIS TAK BAGI DI WADON2. (Uang sudah saya bagikan ke para wanita). NJALUK NGAPURO KARO ANAK BOJO. (Minta maaf pada istri dan anak (saya)). NEK MASALAH UTANG URUSANE NYONG KABEH. ANAK BOJO ORA URUSANE. TAPI NEK DUIT PKH SE WONG GERLANG ENTEK NANG PL PL KARO PSK-LSM. (Kalau masalah utang itu urusannya saya semua. Anak-istri tidak ada sangkut pautnya. Tapi kalau uang PKH milik orang (desa) Gerlang, sudah habis di PL (pemandu lagu) dan PSK dan LSM)," demikian bunyi salah satu wasiat S.


Saat dimintai konfirmasi, Kapolsek Blado, AKP Budi Prayitno, membenarkan ada seorang kadus yang nekat gantung diri. Peristiwa itu terjadi Selasa (14/9) kemarin.


"Iya, tapi itu kejadiannya kemarin (14/9). Kami menerima laporan sekitar pukul 13.30 WIB, langsung kami cek ke lokasi kejadian," kata Budi saat dihubungi wartawan, Rabu (15/9/2021).


Budi mengaku datang ke lokasi bersama tim Puskesmas Blado dan tim Inafis dari Polres Batang. Jenazah korban ditemukan dalam posisi tergantung.


"Kita ke lokasi, korban sudah meninggal dunia tergantung di dalam rumah kosong. Terus melakukan olah TKP dan memeriksa kondisi yang bersangkutan," ucapnya.


Dari hasil pemeriksaan, korban meninggal dunia akibat gantung diri. Polisi juga tidak menemukan tanda kekerasan di tubuh korban.


"Dari tubuhnya tidak ada unsur kekerasan atau bekas penganiayaan. Jadi murni gantung diri. Setelah itu, kami serahkan ke pihak keluarga untuk dilakukan pemakaman sebagaimana mestinya. Pihak keluarga menerima sebagai musibah," jelas Budi.


Sementara itu, kepala desa setempat, mengaku tidak tahu menahu soal masalah perangkat desanya itu. 


Dia menyebut rumah kosong yang digunakan untuk bunuh diri itu memang kerap dikunjungi almarhum.


"Awal mulanya istrinya, buka pintu rumah kosong yang digunakan untuk menggantung. Rumah kosong itu memang kerap dibersihkan oleh almarhum. Saat istrinya masuk, ia sudah tergantung. Setahu saya, selama ini ndak ada masalah apa-apa," kata Sri.


"Nggak tahu masalahnya. nggak pernah cerita, saya sempat tanya ke almarhum sebelumnya, hanya dijawab, 'nggak usahlah bu, ini masalah saya sendiri'. Orangnya sregrep (rajin) sih, disuruh apa-apa mau," imbuh Sri.


Sri menyebut almarhum merupakan orang yang mengelola e-warung dan menjadi supplier. 


"Mungkin karena pusing atau gimana. Ya itu, dia di luar sebagai perangkat desa, bertugas lain untuk bagi-bagi sembako orang. Dia kelola e-warung, banyak desa. Beberapa kecamatan. Dia itu suplier," tambahnya.


Saat disinggung soal adanya surat wasiat terkait utang di PKH, Sri membenarkan, "Ya, itu wasiat dari almarhum."


Sementara itu, salah seorang teman korban, E (55) menyebut almarhum dikenal sebagai sosok yang tertutup. 


Meski sudah mengenal sejak kecil, temannya itu jarang berbagi masalah dengannya.


"Orangnya tidak terlalu terbuka. Kemungkinan panik ya, stres, tertekan, yang saya tahu soal PKH. Iya dia pegang PKH semacem itu, yang dapat sembako dan uang. Ada yang untuk lansia, anak sekolah, balita, ibu hamil dan lain-lain. Saya terakhir ketemu Sabtu," kata Eri.


Dalam surat wasiat tersebut, korban mengakui dirinya telah menggunakan uang PKH yang diperuntukkan untuk warga Desa Gerlang. 


Tim redaksi pun menghubungi Kadus Gerlang Agus Riawan soal hal ini. Agus pun membenarkan pengakuan almarhum soal penggunaan uang PKH ini.


"Dulu itu, dia yang mengurus kartu-kartu penerima saat pencairan itu termasuk desa kami (Gerlang) ke dia. Tapi tahun berapa PKH dicairkan tapi nggak sampai ke warga Gerlang. Jumlahnya banyaklah, sekitar Rp 150 juta, anggaran tahun 2019," kata Agus.


"Pengakuan itu (surat wasiat korban) ditemukan di buku pribadinya dia. Kalau PKH tidak cuman Desa Gerlang saja yang jadi korbannya. Dulu memang sempat kabur sih," terang dia.


Agus menyebut penggunaan uang itu sudah lama. Beruntung warganya mau memahami kondisi yang bersangkutan.


"Warga juga pernah komplain. Terus melihat kondisi dia, warga tidak tega, mau gimana lagi. Yang penting kami bisa mengkondisikan masyarakat, agar kondusif," jelas Agus. [Democrazy/dtk]