Rocky Gerung Pertanyakan Tuduhan Buzzer yang Menyebut Oposisi 'Sogok' Twitter untuk Suspend Akun Mereka | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 09 Agustus 2021

Rocky Gerung Pertanyakan Tuduhan Buzzer yang Menyebut Oposisi 'Sogok' Twitter untuk Suspend Akun Mereka

Rocky Gerung Pertanyakan Tuduhan Buzzer yang Menyebut Oposisi 'Sogok' Twitter untuk Suspend Akun Mereka

Rocky Gerung Pertanyakan Tuduhan Buzzer yang Menyebut Oposisi 'Sogok' Twitter untuk Suspend Akun Mereka


DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik Rocky Gerung mempertanyakan tuduhan buzzer yang menyebut kubu oposisi menyogok Twitter untuk men-suspend akun milik mereka.


Rocky Gerung juga menganggap pernyataan buzzer tersebut sebagai sebuah keanehan, karena akun salah satu kader Partai Demokrat yakni Rachland Nashidik juga mengalami hal serupa.


"Tadi malam teman saya orang Demokrat, Rachland Nashidik juga Twitter-nya dirampok itu. Dia orang Demokrat, bagaimana mungkin dia menyogok Twitter untuk merampok Twitter-nya sendiri kan?," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Senin, 9 Agustus 2021.


Rocky Gerung justru menilai, saat ini pihak oposisi justru diserang balik oleh sekelompok buzzer pro pemerintah karena diduga dendam terhadap kejadian akun mereka yang kini di-suspend oleh Twitter.


Padahal, Twitter memiliki kebijakan untuk tidak menyebarluaskan konten yang berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan publik.


"Jadi oposisi justru sekarang dihajar balik oleh buzzer bodoh ini, karena dia dendam. Padahal Twitter punya aturan bahwa kalian ngompor-ngomporin perpecahan itu tidak etis dalam komunikasi publik," ujarnya.


Rocky Gerung menyebut kekacauan yang terjadi di internal kabinet memiliki dampak yang luar biasa terhadap para buzzer.


Menurutnya, keberadaan sekelompok buzzer pro pemerintah yang berkeliaran di media sosial khususnya Twitter merupakan sumber penyebab utama terjadinya perpecahan di kalangan publik.


"Jadi kekacauan di dalam kabinet itu berimbas kepada kepanikan akun-akun cebong bayaran ini, lalu ngamuk sama-sama jadi ngamuk-ngamuk doang, padahal dia sebetulnya yang memulai perpecahan yang disponsori oleh klaster Cokro ini," katanya.


Rocky Gerung mengapresiasi sikap Twitter yang berupaya keras membasmi keberadaan buzzer yang dinilai telah menciptakan perpecahan di kalangan publik.


Dia mengatakan, keberadaan buzzer yang dia sebut sebagai 'komunitas akal bulus' telah memperburuk keadaan di tengah pandemi yang cenderung mengalami perkembangbiakan.


"Jadi Twitter justru mencegah komunitas akal bulus ini berkembang biak, karena kan nanti kita repot. Virus berkembang biak, komunitas akal bulus berkembang biak juga," ujar dia.


Rocky Gerung menilai, buzzer saat ini cenderung terjebak dalam satu isu yang sama ketika situasi saat ini semakin tidak menentu.


Dia beralasan, jika isu tersebut hilang akan berdampak pada eksistensi buzzer di kalangan publik.


"Jadi geng coro (sebutan sindiran untuk kelompok buzzer di bawah naungan CokroTV) ini, terjebak dalam satu isu tunggal seolah-olah kalau isu itu hilang, maka eksistensi mereka hilang juga. Jadi dia nggak bisa move on bahwa, pemilu udah selesai, Prabowo udah ada di dalam situ (kabinet pemerintah), tetap aja dia anggap bahwa bangsa ini harus dipecah belah," tuturnya. [Democrazy/kst]