Rocky Gerung Beberkan 'Motif Politik' di Balik Latihan Bersama TNI AD dan Militer AS | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 10 Agustus 2021

Rocky Gerung Beberkan 'Motif Politik' di Balik Latihan Bersama TNI AD dan Militer AS

Rocky Gerung Beberkan 'Motif Politik' di Balik Latihan Bersama TNI AD dan Militer AS

Rocky Gerung Beberkan 'Motif Politik' di Balik Latihan Bersama TNI AD dan Militer AS

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan adanya motif politik di balik latihan bersama TNI AD dan militer AS.


Rocky Gerung menyebut bahwa setiap pergantian kekuasaan di AS, presiden yang baru terpilih selalu ingin menunjukkan high profile dirinya terkait kebijakan politik luar negeri agar namanya selalu diingat oleh masyarakat Asia-Pasifik khususnya Asia Tenggara.


"Emang secara faktual begitu terjadi pergantian kekuasaan di Amerika, selalu presiden yang baru harus kasih profil yang high profile tentang politik luar negeri supaya dia diingat, legacy-nya ada. Joe Biden menemukan sebuah momentum untuk membuat dia jadi monumen, diingat sebagai presiden yang punya kepentingan dengan Asia-Pasifik, khususnya Asia Tenggara," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Selasa, 10 Agustus 2021.


Rocky Gerung mengatakan bahwa klaim otoritarian dari Pemerintah China terhadap Laut Natuna Utara menjadi momentum yang tepat bagi militer AS untuk melakukan latihan bersama dengan beberapa negara tak terkecuali Indonesia.


"Momentum itu kemudian tiba karena ada klaim otoritarian dari Pemerintah China terhadap Laut China Selatan. Nah itu momentumnya yang pasti dimanfaatkan oleh Amerika tuh, dengan cara apapun," ujarnya.


Rocky Gerung mengatakan bahwa Indonesia juga turut terseret dalam pusaran problem Laut Natuna Utara yang sedang diperebutkan AS dan China.


Dia menilai, CIA juga memahami bahwa rakyat Indonesia sedang tidak nyaman dengan adanya relasi yang disebutnya sebagai 'New Jakarta Packing'.


"Kebetulan, Indonesia ada di dalam pusaran problematik itu. Saya kira CIA ngerti bahwa rakyat Indonesia sedang tidak nyaman dengan relasi 'New Jakarta Packing' ini," katanya.


Rocky Gerung juga menilai, kerjasama militer dalam bentuk latihan bersama antara TNI AD dengan militer AS sangat kental dengan agenda politik AS di China.


Sebagaimana diketahui, AS memang memiliki upaya untuk menghalangi segala bentuk ekspansi China di Laut Natuna Utara.


"Karena itu kemudian kegiatan kerjasama militer, latihan bersama itu dianggap sebagai persiapan untuk meneruskan politik Amerika di China, yaitu politik menghalangi ekspansi China di Laut China Selatan," ujar dia.


Karena itu, Rocky Gerung menilai wajar apabila publik menganggap Indonesia tak bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh AS.


"Jadi masuk akal kalau publik melihat bahwa memang Indonesia selalu tidak bisa lepas dari faktor Amerika. Semua pemerintahan di Indonesia selalu punya dua sisi yaitu sisi pertama berupaya untuk melakukan politik bebas aktif, tapi sisi deskriptifnya atau sisi realisnya selalu ingin dapat proteksi Amerika," ucapnya.


Rocky Gerung kemudian menegaskan bahwa Indonesia dalam kasus Laut Natuna Utara seolah harus menentukan keberpihakannya apakah ingin pro dengan AS atau China.


Sebab, kedua negara super power tersebut tak ingin mengalah dalam isu perebutan kawasan Laut Natuna Utara sehingga Indonesia seolah tak memiliki opsi lain selain harus 'bermain aman' dengan menentukan keberpihakannya terhadap salah satu dari kedua kubu.


"Sehingga orang menganggap kalau ada dua super power berupaya untuk menguasai China Selatan, maka tentu rakyat Indonesia harus memilih pro Amerika atau pro China? Lebih aman mana?," tuturnya. [Democrazy/dtk]