Refly Harun Sebut Iklim Demokrasi Indonesia Sedang dalam 'Situasi Bahaya', Begini Penjelasannya | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 21 Agustus 2021

Refly Harun Sebut Iklim Demokrasi Indonesia Sedang dalam 'Situasi Bahaya', Begini Penjelasannya

Refly Harun Sebut Iklim Demokrasi Indonesia Sedang dalam 'Situasi Bahaya', Begini Penjelasannya

Refly Harun Sebut Iklim Demokrasi Indonesia Sedang dalam 'Situasi Bahaya', Begini Penjelasannya

DEMOCRAZY.ID - Pakar hukum tata negara Refly Harun menyebut iklim demokrasi di Indonesia saat ini sedang dalam bahaya.


Refly Harun menyoroti penghapusan mural Presiden Jokowi yang disebut '404 Not Found' oleh aparat kepolisian sebagai salah satu indikasinya.


Berkaca dari hal tersebut, Refly Harun mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang membunuh demokrasi dalam setiap kali pemilihan umum digelar.


"Walaupun ini semacam sindiran, hal yang terpenting bagi kita adalah jangan sampai pemerintahan yang dipilih masyarakat secara demokratis ini justru membunuh demokrasi," kata Refly Harun sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Refly Harun pada Jumat, 20 Agustus 2021.


Refly Harun kemuedian menyoroti kejadian pada saat Indonesia masih dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda.


Dia menilai, orang-orang yang bermasalah dengan penjajah pada saat itu adalah orang-orang yang kritis dan ingin menentang segala bentuk penjajahan pada masanya.


"Kalau zaman penjajahan, orang-orang yang bermasalah dengan penjajah itu pastilah orang yang kritis yang mau melawan terhadap penjajahan. Orang yang mau berkolaborasi pasti enggak masalah," ujarnya.


Refly Harun menilai, apa yang terjadi di era penjajahan Hindia Belanda juga terjadi pada saat ini.


Dia mengatakan bahwa saat ini, pihak-pihak yang berafiliasi dengan pemerintah memiliki jaminan untuk bebas dari proses hukum oleh pihak kepolisian.


"Sekarang, kalau mau lihat demokrasi ini berjalan atau tidak, maka lihatlah orang yang mengkritik pemerintah, yang menjaga jarak dengan pemerintah. Jangan dengarkan juru bicara Istana atau wakil dari partai penguasa, mereka pasti akan mengatakan tidak ada masalah dengan demokrasi. Karena mau ngomong apapun, sepanjang mereka masih di sisi pemerintahan ya mereka tidak akan diproses oleh pihak kepolisian," katanya.


Refly Harun mencontohkan, sekelompok buzzer Istana yang kerap dinilai telah membuat gaduh di negeri ini nyaris tak pernah diproses hukum karena dianggap sangat mendukung kepentingan pemerintah yang berkuasa.


Perlakuan yang berbeda justru diperoleh tokoh agama yang langsung ditangkap oleh aparat ketika baru sekali dilaporkan, hingga ada yang meninggal dunia di tahanan hanya karena tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah yang berkuasa.


"Sebagai contoh misalnya, yang dikenal dengan para buzzer. Walaupun sudah didesak, dilaporkan, dan lain sebagainya, tetap saja tidak diproses. Tapi ada ustadz baru dilaporkan sedikit ditangkap, dijemput, dan ada yang meninggal di tahanan," ujar dia.


Terakhir, Refly Harun mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa iklim demokrasi Indonesia sedang dalam bahaya, sehingga masyarakat harus bersuara agar demokrasi di Indonesia tidak mati.


"Kalau ini yang masih muncul pada pemerintah sekarang, ya demokrasi is still in danger, masih dalam bahaya. Itulah sebabnya, kita harus senantiasa menyuarakan agar demokrasi ini tidak mati," tuturnya. [Democrazy/pkr]