Prihatin dengan Iklim Demokrasi di Era Rezim Jokowi, Lieus Sungkharisma: Jangan Biarkan Rakyat Ini Terbelah! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 28 Agustus 2021

Prihatin dengan Iklim Demokrasi di Era Rezim Jokowi, Lieus Sungkharisma: Jangan Biarkan Rakyat Ini Terbelah!

Prihatin dengan Iklim Demokrasi di Era Rezim Jokowi, Lieus Sungkharisma: Jangan Biarkan Rakyat Ini Terbelah!

Prihatin dengan Iklim Demokrasi di Era Rezim Jokowi, Lieus Sungkharisma: Jangan Biarkan Rakyat Ini Terbelah!

DEMOCRAZY.ID - Aktivis sosial Lieus Sungkharisma mengaku prihatin dengan iklim demokrasi selama era rezim pemerintahan Presiden Jokowi.


Lieus Sungkharisma mengatakan bahwa sudah seharusnya rakyat Indonesia tak lagi terpecah belah atau terpolarisasi usai penyelenggaraan Pemilu 2019 lalu.


"Dalam kondisi negara seperti ini, kalau menurut saya kemarin selesailah Pilpres pasangan nomor 1 dan nomor 2 sudah selesai apalagi sekarang sudah bergabung. Menurut saya sudah selesai, kok masih ada yang kipas-kipas masalah pribumi, masalah kesukuan, terus sama umat Islam nih kayaknya sentimen banget gitu," kata Lieus Sungkharisma sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Fadli Zon Official pada Sabtu, 28 Agustus 2021.


Lieus Sungkharisma mengatakan bahwa sikap kritis rakyat terhadap pemerintah bukan merupakan sebuah bentuk kebencian.


Menurutnya, sikap kritis merupakan sarana untuk mengontrol jalannya pemerintahan agar tetap berada di jalur yang benar.


Namun dia juga menyayangkan tindakan kriminalisasi yang ditujukan kepada pihak-pihak yang dianggap berseberangan secara politis dengan rezim Jokowi.


"Kalau sekarang kita kritis bukan berarti kita benci, kita lihat ini salah jalannya kita koreksi. Jangan terus dipanggil polisi, beda pandang dipanggil polisi ditangkap, digerebek, jadi ini nggak sehat," ujarnya.


Lieus Sungkharisma menceritakan pengalamannya ketika menjadi seorang aktivis di masa pemerintahan Orde Baru.


Selama itu pula, dia tak pernah merasa takut untuk menyuarakn pendapat di muka umum sepanjang tidak membahayakan kepentingan negara.


"Zaman dulu katanya zaman Soeharto itu diktator, tapi rasanya saya dulu aktif dari zaman Pak Harto tahun 1986 nggak ada rasa bikin statement atau takut, nggak ada. Karena kita yakin bukan mau mencelakakan negara," katanya.


Ironisnya, Lieus Sungkharisma justru merasa takut untuk menyuarakan kebenaran di era rezim Jokowi yang disebut-sebut sangat pro terhadap kaum minoritas.


Menurutnya, kepedulian Jokowi terhadap minoritas hanya sebuah lip service karena hanya merupakan kamuflase untuk menjalankan politik adu domba khususnya untuk mendiskreditkan kelompok Islam.


"Sekarang saya sih betul-betul takut, nggak berani sembarang ngomong. Cuma kalo orang Glodok bilang 'Bohong, nggak ada cara lagi'. Orang lain bilang 'Lieus, lu yang ngomong Lieus, cuma lu nih yang berani ngomong. Ini bahaya nih orang, kelihatannya kayak belain kita Tionghoa tapi dia nyerang Islam. Ini belain minoritas, tapi sebetulnya ngadu nih, ya kita bersuaralah'," ujar dia.


Terakhir, Lieus Sungkharisma berpesan agar pemerintah tak membiarkan polarisasi di tengah masyarakat Indonesia terus-menerus berlangsung.


"Jangan biarkan rakyat ini terbelah, jangan dipelihara keterbelahan ini terus di-maintain, jangan. Energi kebuang, emosi jadi naik," tuturnya. [Democrazy//pkr]