MAKI Beberkan Sejumlah Kutukan Sejarah KPK | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 30 Agustus 2021

MAKI Beberkan Sejumlah Kutukan Sejarah KPK

MAKI Beberkan Sejumlah Kutukan Sejarah KPK

MAKI Beberkan Sejumlah Kutukan Sejarah KPK

DEMOCRAZY.ID - Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI), Boyamin Saiman mengungkapkan 'kutukan' sejarah di dalam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Hal itu dia sampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Karni Ilyas Club yang diunggah di kanal Youtube pada Minggu, 29 Agustus 2021.


Awalnya, Boyamin Saiman menyoroti bagaimana grafik KPK saat ini mengalami penurunan akibat berbagai polemik yang terjadi.


"Grafik KPK menurun saat ini, banyak hal yang semestinya sudah produktivitas tinggi tapi 1,5 tahun masih berpolemik yang pertama ya memang TWK, mau tidak mau diakui, bahwa Covid, iya, tapi jangan jadikan alasan itu, dan juga berkaitan dengan konsolidasi," tuturnya, dikutip dari Kanal Youtube Karni Ilyas Club, Senin, 30 Agustus 2021.


Boyamin Saiman menuturkan bahwa tidak dapat dipungkiri, KPK yang sebelumnya hanya tinggal meneruskan, saat ini seperti harus memulai kembali dari 0.


Pasalnya, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) KPK menyatakan 53 pegawai tidak lolos dan tidak bisa dibina, sehingga dinonaktifkan yang keputusannya akan keluar pada November 2021 mendatang.


"Jadi kalau saya bicara lebih umum, sifatnya manajemen, ini sesuatu yang memulai seakan-akan dari 0 lagi," ujar Boyamin Saiman.


Sementara terkait konsolidasi, dia menyatakan bahwa konsolidasi yang disebutkannya berkaitan dengan konsolidasi secara keseluruhan di dalam KPK.


"Konsolidasi keseluruhan, karena TWK ini menjadikan, kalau nanti bener misalnya November ini yang 53 orang ini pergi semua, kan mau tidak mau harus mengkonsolidasikan, dan ini butuh waktu 1 tahun, sudah sekarang hampir 2 tahun, 3 tahun, sudah mau habis," tutur Boyamin Saiman.


Dia menambahkan bahwa setahun terakhir sebelum masa jabatan pimpinan KPK habis, lembaga antikorupsi tersebut justru akan tampak lumpuh.


"Nanti setahun terakhir itu seperti sudah lumpuh nantinya, sudah banyak yang mungkin pengen jadi lagi, mungkin sudah lobi-lobi sana-sini, terus kemudian ingin nanti pengen jadi apa, Komisaris atau bahkan Menteri," ujar Boyamin Saiman.


Menurutnya, aksi lobi sana-sini tersebut bukanlah hal baru, melainkan cerita-cerita yang terus berulang.


"Selalu terulang begitu ceritanya, bahkan ada yang pengen jadi Wapres, berkali-kali, dan itu pun saya yakin akan terulang di tahun 2023 nanti di akhir-akhir masa jabatan Pak Ghufron itu, ada yang berpikir ingin jadi wapres. Itu pasti ada, saya jamin deh," tutur Boyamin Saiman.


Dia pun menyebut bahwa fenomena tersebut merupakan kutukan sejarah KPK yang telah terjadi sejak zaman Antasari Azhar.


"Karena ini kutukan sejarah, sejak zaman pak Antasari nampaknya seperti itu, ada proses-proses yang ingin meniti karier lebih tinggi lagi, pimpinan KPK ini yang dibuat batu loncatan. Menjadikan kemudian tidak fokus lagi di lembaganya." kata Boyamin Saiman. [Democrazy/syg]