Jasadnya Menghilang Saat Dikuburkan, Ternyata Begini Keseharian Ulama TGH Lalu Al Bayani Akbar Semasa Hidup | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 10 Agustus 2021

Jasadnya Menghilang Saat Dikuburkan, Ternyata Begini Keseharian Ulama TGH Lalu Al Bayani Akbar Semasa Hidup

Jasadnya Menghilang Saat Dikuburkan, Ternyata Begini Keseharian Ulama TGH Lalu Al Bayani Akbar Semasa Hidup

Jasadnya Menghilang Saat Dikuburkan, Ternyata Begini Keseharian Ulama TGH Lalu Al Bayani Akbar Semasa Hidup

DEMOCRAZY.ID - Wafatnya sosok ulama TGH Lalu Al Bayani Akbar menyisakan peristiwa aneh. Jasad ulama Lombok Timur ini mengempis dan menghilang saat dimasukkan ke liang lahat.


Rasa penasaran pun menyelimuti hati setiap orang, apa sebenarnya yang terjadi sehingga jasad ulama ini bisa menghilang begitu saja.


Sesudah wafat, keseharian Mursyid Toriqoh Naqsabandiyah ini semasa hidup, menjadi sesuatu yang diingat oleh keluarganya agar menjadi pelajaran.


Beberapa hari ini, sebuah video berdurasi 50 detik memperlihatkan jasad salah seorang ulama menghilang saat dimasukkan ke liang lahat.


TGH Lalu Al Bayani Akbar merupakan warga Dusun Padamara, Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, NTB.


Jasadnya menghilang selepas didoakan kala berada di liang lahat.


Informasi yang dihimpun wartawan, TGH L Bayan Ali Akbar merupakan salah satu mursyid Toriqoh Naqsabandiyah di Pulau Lombok.


Tak sedikit orang yang berguru kepadanya, bahkan muridnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia.


Meski ia seorang guru dengan murid yang begitu banyak, dirinya merupakan orang yang bersahaja. Ia dianggap seorang pengayom di tengah kelurga dan masyarakat sekitar.


“Setau kami, beliau (TGH Lalu Albayani Ali Akbar) seorang yang penyayang kepada keluarga,” kata salah seorang anak TGH Lalu Albayani Ali Akbar, Lalu Zainal Irfan, saat ditemui, Senin (9/8).


Ia menuturkan, TGH Lalu Albayani Akbar, lahir tahun 1937 silam di Desa Padamara. Ia wafat pada Minggu (8/8) kemarin, dalam usia 86 tahun.


Bukti TGH L Bayan disebut penyayang keluarga karena hampir semua ank, cucu dan cicitnya sangat dekat.


Selain keluarga, ia juga dikenal sebagai pengayom masyarakat. Dirinya bahkan tak pernah membedakan orang dari ras, suku, maupun agama.


Sebab, kata Lalu Zainal, dirinya melihat sering menyaksikan secara langsung. Banyak yang datang ke kediaman beliau dari berbagai ras, warna kulit, dan agama selalu diterima dengan baik.


Sikap itulah, kata dia, yang menjadi contoh dalam berinteraksi sosial. Baik ke anak cucunya maupun ke murid-muridnya.


Namun demikian, meski ia seorang mursyid tarekat, ia tak pernah mau dipanggil tuan guru, seperti gelar bagi pemuka agama yang lainnya. Ia selalu berujar, dirinya hanyalah orang biasa, sama seperti manusia lainnya.


“Beliau tidak pernah mau dipanggil tuan guru atau gelar pemuka agama lainnya,” ujarnya.


Ia menjelaskan, Almarhum termasuk orang yang jarang keluar rumah. Ia berada di luar jika ada undangan, baik dari warga sekitar maupun dari murid-muridnya.


Sepengetahuan Lalu Zainal, Almarhum hanya menempuh pendidikan sekolah rakyat (SR). Kedalam ilmu agama itu sendiri didapatinya dari keluarga.


Ia merupakan keturunan dari salah seorang guru tarekat. Yakni dari Syaikh Sirril Burhani, dan seorang kakek salah seorang guru di tarekat yang sama yaitu, Syaikh Sirril Bayanullah.


Jadi tak heran jika Almarhum memiliki kedalaman ilmu agama. Dirinya merupakan keturunan langsung dari mursyid tarekat Naqsabandiyah di Lombok.


Lantaran itu, pemakannya juga berada di komplek para leluhurnya dikuburkan. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga.


“Pesannya kepada anak-anaknya yaitu selalu bersatu dengan saudara maupun masyarakat,” ujarnya.


Sementara itu, anak lainnya, Baiq Fitriani Dwi Nispiana menceritakan, pada saat pemakaman, ia bersama saudaranya yang lain sudah menunggu kedatangan jenazah almarhum di dalam ruangan makam.


Pada saat jenazah almarhum di letakkan di liang lahat, ia melihat dengan jelas jenazah tiba-tiba mengempis dan menghilang.


“Pada saat itu saya berada di dekat liang kubur Mamiq saya, pas di atas kepalanya. Tapi pada saat itu tiba-tiba saya melihat ada cahaya, entah darimana datangnya,” tuturnya.


Pada saat almarhum diletakkan di liang lahat dan selesai didoakan, seketika Fitriani bersama dengan keluarga dan jamaah yang lain melihat jasad bapaknya mengempis dan menghilang.


“Pada saat jenazahnya diturunkan, jasadnya masih ada, tapi pas selesai didoakan baru jasadnya mulai mengempis dan menghilang,” katanya.


Anak dari TGH Lalu Al Bayani Akbar, Baiq Sapta Rembulan, yang melihat dan mengambil video prosesi pemakaman almarhum menuturkan, ia sontak terkejut melihat jasad almarhum yang tiba-tiba tiba mengempis dan menghilang.


Spontan tangisnya pecah dan mengatakan “Mana jasad Bapak, hilang Bapak”.


Sapta menuturkan bahwa video yang viral tersebut memang diambil sendiri. Video diambil tidak hanya pada saat prosesi pemakaman saja, tapi juga dari prosesi pemandian jenazah almarhum.


“Saya tidak tau video itu viral. Video itu saya ambil untuk konsumsi pribadi keluarga dan murid beliau, untuk mengenang kepergiannya,” jelasnya.


Ia mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di dalam video tersebut merupakan fakta. Namun ia tidak tau siapa yang menyebarkan video yang ia ambil untuk para keluarga dan jama’ah.


“Bagaimanapun penilaian masyarakat dengan video itu kami tidak hiraukan. Apa yang terjadi biarlah orang yang menilai sendiri dengan penilaian masing-masing,” imbuhnya.


Sementara itu salah seorang warga setempat, Er menerangkan, almarhum memang dikenal memiliki perangai yang baik.


Dirinya juga menyebut yang bersangkutan merupakan pengayom masyarakat di desa setempat.


Menurutnya, banyak contoh baik yang diwariskan olehnya. 


Tak hanya di internal keluarga, tapi juga bagi masyarakat setempat.


“Kami akan mengenangnya dan memelihara nilai yang telah diajarkan,” ucapnya. [Democrazy/trg]