Hasil Riset Ungkap Fakta Mengejutkan, Dosen UI Taufik Bahaudin Ajak Masyarakat Waspada 'PKI Gaya Baru' | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 29 Agustus 2021

Hasil Riset Ungkap Fakta Mengejutkan, Dosen UI Taufik Bahaudin Ajak Masyarakat Waspada 'PKI Gaya Baru'

Hasil Riset Ungkap Fakta Mengejutkan, Dosen UI Taufik Bahaudin Ajak Masyarakat Waspada 'PKI Gaya Baru'

Hasil Riset Ungkap Fakta Mengejutkan, Dosen UI Taufik Bahaudin Ajak Masyarakat Waspada 'PKI Gaya Baru'

DEMOCRAZY.ID - Dosen Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Taufik Bahaudin mengajak masyarakat untuk waspada terhadap bahaya 'PKI gaya baru' di tanah air.


Taufik Bahaudin mengutip sebuah riset dari seorang mahasiswa UI yang mengungkapkan berbagai fakta mengejutkan di balik tumbuhnya 'PKI gaya baru' yang bergerak secara senyap di tanah air.


"Hasil riset seorang mahasiswa UI untuk mengambil S3 di UI, dia menampilkan hasil riset yang disebut 'Bangkitnya Komunis Gaya Baru' dan di Indonesia muncul dalam bentuk PKI gaya baru," kata Taufik Bahaudin sebagaimana dikutip dari kanal YouTube UI Watch dalam sebuah video yang ditayangkan pada Selasa, 24 Agustus 2021.


Taufik Bahaudin mengungkapkan, 'PKI gaya baru' yang saat ini berkembang secara senyap di tanah air tampil dengan wajah olahan dari Partai Komunis China.


Dia mengatakan, 'PKI gaya baru' tampil dengan wajah kapitalis namun masih menerapkan cara-cara memimpin ala komunis seperti pengendalian partai politik dalam satu kontrol kekuasaan hingga politik anti agama.


"Komunis gaya baru itu ditampilkan dalam olahan Partai Komunis China (RRC). Bungkus yang di luar adalah kapitalis, tetapi mereka masih menerapkan prinsip-prinsip komunis seperti adanya pengendalian satu partai, adanya central committee, kemudian ciri-ciri yang jelas adalah mereka sangat anti agama," ujarnya.


Taufik Bahaudin menegaskan bahwa fakta yang telah didukung oleh riset dari salah satu mahasiswa UI tersebut telah dipaparkan dalam sejumlah seminar atau forum ilmiah dan disaksikan oleh sejumlah purnawirawan TNI dan pengurus KAMMI.


"Dan Partai Komunis Indonesia yang kita sebut dengan PKI gaya baru berorientasi ke komunis gaya baru di RRC. Riset ilmiah ini sudah dipaparkan terbuka minimal dua kali di publik (tahun 2014 dan 2017), ditayangkan di seminar yang dihadiri para purnawirawan TNI dan sebagian pati-pati dan yang kedua juga di purnawirawan TNI. Yang ketiga bahkan di pengurus KAMMI di Jakarta," katanya.


Taufik Bahaudin bahkan menegaskan bahwa 'PKI gaya baru' kini telah menyusup ke berbagai lembaga negara atau pemerintahan berdasarkan riset tersebut.


"Apa yang disampaikan pada waktu itu sekarang menjadi kenyataan. Apa kenyataan yang ada? Bahwa PKI gaya baru bergerak terus dan menyusupi lembaga-lembaga pemerintahan, partai-partai politik, DPR, dan sebagainya," ujar dia.


Dia juga mengungkapkan, 'PKI gaya baru' tidak tampil dengan terbuka karena masih diberlakukannya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme.


Akan tetapi, 'PKI gaya baru' menggunakan jasa buzzer atau influencer untuk mempromosikan pengaruhnya dengan narasi yang seolah-olah tidak bermaksud untuk menyebarkan paham komunisme.


"Dan mereka tidak tampil langsung, tetapi menggunakan kepanjangan tangan dan/atau mulut-mulut yang kita sebut dengan para buzzer dan sebagainya itu. Sangat jelas yang disusupi adalah ormas-ormas yang ada terutama agama Islam," kata dia.


Taufik Bahaudin mengatakan, umat Islam dan TNI merupakan dua elemen utama bagi ketahanan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (TNI).


Dia mengatakan, 'PKI gaya baru' akan semakin berani menunjukkan eksistensinya jika umat Islam di Indonesia dan TNI diperlemah, dihancurkan, bahkan hingga diadu domba.


"Ciri-ciri yang harus kita sadari bahwa, dua hal yang menjadi musuh besar golongan komunis terutama PKI (termasuk PKI gaya baru) adalah umat Islam Indonesia harus dihancurkan dan diperlemah, diadu domba. Yang kedua TNI diperlemah," ucapnya.


Terakhir, Taufik Bahaudin juga mengingatkan kepada masyarakat untuk mewaspadai siapapun tokoh yang selalu tampil dengan menyudutkan Islam atau menularkan Islamophobia.


"Jadi, apapun yang mereka lakukan, siapapun yang berbicara menjadi kepanjangan tangan atau sudah terpapar strategi PKI gaya baru, kita sangat mudah mengidentifikasinya adalah bagaimana mereka menjelek-jelekkan Islam atau tampil dengan Islamophobia," tuturnya. [Democrazy/pkr]