Gegara Kelakuan AS Ini, China Jadi Marah Besar! Taiwan Beli 40 Sistem Artileri untuk Perkuatan Pertahanan | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 06 Agustus 2021

Gegara Kelakuan AS Ini, China Jadi Marah Besar! Taiwan Beli 40 Sistem Artileri untuk Perkuatan Pertahanan

Gegara Kelakuan AS Ini, China Jadi Marah Besar! Taiwan Beli 40 Sistem Artileri untuk Perkuatan Pertahanan

Gegara Kelakuan AS Ini, China Jadi Marah Besar! Taiwan Beli 40 Sistem Artileri untuk Perkuatan Pertahanan

DEMOCRAZY.ID - Di tengah sengketa Taiwan, Amerika Serikat memancing emosi para pejabat Beijing. 


Pemerintahan Joe Biden menyetujui penjualan 40 sistem artileri Howitzer ke pihak Taiwan.


Seperti diketahui, Beijing selama ini mengklaim Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan bersumpah akan merebut bahkan dengan kekerasan jika perlu.


Kementerian Luar Negeri China mengecam penjualan senjata itu dan mengancam akan mengambil tindakan balasan.


China menganggap penjualan senjata itu mencampuri urusan dalam negeri China.


"Sangat menentang penjualan tersebut dan telah mengajukan pernyataan serius dengan Amerika Serikat," kata juru bicara Kemlu China Zhao Lijian dalam pernyataan di situs resmi kementerian, Kamis, 5 Agustus 2021 seperti dilaporkan Reuters, Jumat, 6 Agustus 2021.


Kantor Urusan Taiwan di China meminta AS untuk menghentikan semua penjualan senjata ke Taiwan agar tidak mengirim sinyal yang salah kepada pasukan pro-kemerdekaan.


Kementerian Luar Negeri AS sebelumnya menyetujui penjualan 40 sistem artileri howitzer dengan nilai US$750 juta atau sekitar Rp10,7 triliun.


Persetujuan itu akan menjadi penjualan senjata pertama pemerintahan Presiden Joe Biden ke Taiwan. Kini rencana penjualan itu menunggu persetujuan Kongres.


Howitzer menembak dalam sudut tinggi dan memiliki daya penghancur yang sangat besar karena proyektil yang dilontarkan.


Taiwan memiliki pemerintahan sendiri, namun mereka hidup di bawah ancaman invasi China.


Kesepakatan itu juga disebut akan membantu pulau itu menghadapi invasi China.


Kemlu Taiwan menyebut senjata itu juga akan membantu memperkuat pertahanan diri serta perdamaian dan stabilitas kawasan.


Walaupun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan karena kebijakan Satu China, Washington dan Taipei memiliki perjanjian kerja sama. Pakta kerja sama itu meliputi bidang ekonomi hingga pertahanan.


Dalam perjanjian itu, AS memiliki tanggung jawab membantu Taiwan melindungi diri dari ancaman agresi China.


Hubungan China dan Taiwan terus memburuk setelah Taipei dipimpin oleh Presiden Tsai Ing-wen.


Ia merupakan Presiden Taiwan yang pro-demokrasi. Sejak memimpin pada 2016, Tsai terus berupaya mencari pengakuan internasional bagi Taiwan, termasuk dengan mendekatkan diri ke Amerika Serikat.


Namun, Presiden China Xi Jinping, berkeras tidak akan membiarkan Taiwan merdeka. 


Ia bahkan bersumpah akan melakukan segala cara, termasuk perang militer, demi mempertahankan Taiwan. [Democrazy/rkp]