Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,07 Persen, INDEF: Tak Perlu Bangga Berlebihan, China-AS-Singapura Lebih Tinggi | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 06 Agustus 2021

Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,07 Persen, INDEF: Tak Perlu Bangga Berlebihan, China-AS-Singapura Lebih Tinggi

Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,07 Persen, INDEF: Tak Perlu Bangga Berlebihan, China-AS-Singapura Lebih Tinggi

Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,07 Persen, INDEF: Tak Perlu Bangga Berlebihan, China-AS-Singapura Lebih Tinggi

DEMOCRAZY.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja melaporkan realisasi pertumbuhan ekonomi di semester II tahun 2021 sebesar 7,07 persen year on year (yoy).


Angka ini tentu lebih tinggi dari semester I tahun ini yang minus 0,74 persen yoy, bahkan secara tahunan pada kuartal II-2021 ekonomi kontraksi hingga minus 5,34 persen yoy.


Terkait hal ini, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad lantas menanggapinya.


Meski ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen pada kuartal II tahun 2021 secara yoy, angka ini tidak lebih tinggi dibanding negara-negara mitra dagang.


Hal ini Tauhid sampaikan dalam diskusi virtual bertajuk "Waspada Gelombang Dua Pemulihan Ekonomi Triwulan II-2021" pada Jumat, 6 Agustus 2021.


"Yang menarik dari pertumbuhan ekonomi yang diumumkan BPS kemarin adalah kita cukup tinggi 7,07 persen. Tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi mitra dagang, kita masih jauh lebih rendah ya," katanya.


Dia menjelaskan, satu hal yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi yang bukan hanya dialami Indonesia tapi juga negara lain adalah karena, faktor dari basis pertumbuhan ekonomi yang rendah alias terkontraksi dalam low base effect pada kuartal II tahun 2020 lalu.


Sebagai contoh, Tauhid menyebut pertumbuhan ekonomi di China hingga Singapura yang masih di atas Indonesia.


"Misalnya, China dari minus 6,8 menjadi 18,3 persen. Amerika dari minus 9 menjadi 12,2 persen, dan Singapura minus 13,3 menjadi 14 persen," paparnya.


Sebagaimana diketahui, pada kuartal II tahun 2020 lalu, ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 5,32 persen.


Kendati demikian, ia sadar bahwa perekonomian Tanah Air tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan negara lain khususnya tiga negara di atas.


Tapi, ia juga melihat berbagai upaya dari negara lain untuk memulihkan ekonomi bisa lebih maksimal dalam momentum low base effect yang sama, yaitu kuartal II tahun 2021 dibanding kuartal II tahun 2020.


Sehingga ia mengatakan tidak perlu terlalu berbangga dengan fenomena ini.


"Jadi kita tidak perlu terlalu berbangga ketika memang fenomena low base effect ini terjadi, karena negara lain mengalami yang sama. Cuma perbedaannya berapa besar prosenstase dari low base effect sebagai sumbangan dari pertumbuhan ekonomi, itu yang menarik," pungkasnya. [Democrazy/grt]