Bukan Prank, Sultan dari Riau Ini Pernah Menyumbang Rp1 Triliun untuk Indonesia | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 05 Agustus 2021

Bukan Prank, Sultan dari Riau Ini Pernah Menyumbang Rp1 Triliun untuk Indonesia

Bukan Prank, Sultan dari Riau Ini Pernah Menyumbang Rp1 Triliun untuk Indonesia

Bukan Prank, Sultan dari Riau Ini Pernah Menyumbang Rp1 Triliun untuk Indonesia

DEMOCRAZY.ID - Sumbangan Rp2 triliun yang diduga prank di Sumatera Selatan akhir-akhir ini membuat publik heboh. 


Namun, ada kisah dalam sejarah yang pernah menyumbangkan uang Rp1 triliun kepada negara.


Orang itu adalah Sultan Syarif Kasim II. Kisah itu tertuang dalam buku Pelajaran Penting dari Sultan Syarif Kasim II. Pahlawan nasional dari Riau. 


Diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tahun 2018.


Ia disebutkan menyumbang 13 juta gulden atau setara dengan uang Rp1 triliun untuk Indonesia yang kala itu baru merdeka.


Sultan Syarif Kasim II naik tahta pada 13 Maret 1915 di usia 21 tahun untuk menggantikan sang ayah yang wafat 1908. 


Ia memiliki darah Arab yang mengalir ditubuhnya, perawakannya tegap, gagah, rapi, berkharisma.


Bahkan kharisma Sultan Syarif pernah membuat ratu Belanda, Wilhelmina kepincut. 


Dihimpun dari berbagai sumber, konon kabarnya Ratu Wilhelmina pernah jatuh cinta pada Sultan Sultan Syarif Kasim II, penguasa dari kerajaan Siak di Riau.


Awal pertemuan mereka, saat sang ratu berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura. pada momen Sultan menjabat, pada saat


Sultan juga diundang secara pribadi untuk menghadiri penobatan ratu Wilhelmina, Sultan mendapat penghormatan tersendiri yang lebih dibandingkan tamu-tamunya yang lain.


Ratu Wilhelmina kembali mengundang Sultan Syarif Kasim secara pribadi pada perayaan pesta ulang tahunnya. Sultan mendapat sambutan yang luar biasa meriah.


Ratu juga sempat meminta agar sang sultan membuat patung dirinya untuk disimpan di Belanda. 


Sebagai gantinya, ia turut mengirim patung dirinya untuk disimpan di istana Siak Sri Indrapura sebagai kenang-kenangan. Keduanya juga sering bertukar kado.


Namun perbedaan yang menyolok seperti perbedaan agama, adat, bangsa, membuat Sultan mundur secara halus dan perlahan. [Democrazy/trb]