Ngeri! Cak Nun Mengaku Pernah Hampir Mati Gegara Disantet 41 Orang, Hal Ini Diduga Jadi Penyebabnya | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 24 Juli 2021

Ngeri! Cak Nun Mengaku Pernah Hampir Mati Gegara Disantet 41 Orang, Hal Ini Diduga Jadi Penyebabnya

Ngeri! Cak Nun Mengaku Pernah Hampir Mati Gegara Disantet 41 Orang, Hal Ini Diduga Jadi Penyebabnya

Ngeri! Cak Nun Mengaku Pernah Hampir Mati Gegara Disantet 41 Orang, Hal Ini Diduga Jadi Penyebabnya

DEMOCRAZY.ID - Budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun mengaku pernah disantet pada tahun 2002 silam.


Tak tanggung-tanggung, menurut pengakuan Cak Nun, ia disantet beramai-ramai. Setidaknya, oleh 41 orang. Mereka disebut dibayar Rp400 juta.


Adapun kisah santet mengerikan yang dialami Cak Nun disampaikan dalam sebuah video di kanal YouTube As-Salafiyyun bertajuk ‘Ekslusive!!! Kronologi Cak Nun disantet 41 orang dilawan Seorang Diri!’.


Di awal ceritanya, Cak Nun mengaku sering difitnah orang hingga puncaknya terjadi ketika haul 100 hari Gus Dur di alun-alun Tuban.


Saat itu, Novia Kolopaking marah, Kiai Kanjeng marah, sementara Cak Nun mengaku sedikit marah.


Ia lalu melawan orang-orang yang menjelek-jelekkan dirinya di lokasi karena menurutnya, ia punya alasan mengapa harus melawan.


Ia mengklaim bahwa perlawanannya bukan karena kemarahannya, tetapi lantaran ingin memberi tahu kebenaran yang sesungguhnya.


“Saya itu dibunuh ceritanya. Disantet 41 orang. Dibiayai Rp400 juta sekitar tahun 2002-2003. Aku disantet beramai-ramai,” ungkap Cak Nun, pada Sabtu, 24 Juli 2021.


Disantet Dua Kelompok, Salah Satunya Pembela Gus Dur


Cak Nun mengatakan ada dua kelompok yang menyantet dirinya. Kelompok pertama ia lawan di stadion sehingga orang yang berada di sana diusirnya.


“Pada saat yang sama, saya disantet orang-orang yang belain Gus Dur yang menganggap saya ini anti Gus Dur,” tuturnya.


Orang-orang tersebut menganggap Cak Nun anti Gus Dur lantaran dirinya pernah memberitahu bahwa Gus Dur akan dilengserkan dari kursi presiden.


Kala itu, Cak Nun pernah bilang ke Ansor, Banser, bahwa Gus Dur dalam bahaya dan jika tidak segera diantisipasi, maka Gus Dur bisa jatuh sebelum tiga bulan dari sekarang.


Sayangnya kata Cak Nun, orang-orang malah marah-marah terhadap peringatannya tersebut.


“Kalo kalian marah sama saya, nanti kalo Gus Dur jatuh belum tiga bulan kena impeachment, jangan marah sama saya karena sudah saya kasih tahu.”


Cak Nun mengaku saat itu bisa saja membantu Gus, tetapi ia tidak mendapat mandat dari NU, PKB.


“Karena saya bersikap seperti itu malah dianggap mengancam Gus Dur akan jatuh,” kenang Cak Nun.


Nah, Cak Nun pun kemudian sakit-sakitan karena disantet. Tangannya gemetar. Berat badannya turun drastis dari 70 kg ke 50 kg. Ia bahkan kadang pingsan saat memberi ceramah.


Hubungi Teman Dokter dan Usia Divonis Sisa 3 Bulan


Akhirnya Cak Nun menghubungi salah seorang temannya yang merupakan dokter lulusan UGM, Eddy Supriyadi.


Melihat kondisi Cak Nun seperti itu, Eddy merasa ada yang tidak benar. Awalnya, ia mengira ada sesuatu pada kelenjar tiroid Cak Nun.


Namun, untuk lebih pastinya, Eddy menyarankan Cak Nun datang ke ahlinya, yakni Prof. Asdi yang kemudian memberi tahu hasil sangat mengejutkan.


Prof. Asdi sampai tak percaya dengan hasil lab tersebut. Untuk lebih yakin, ia pun mengulang kembali mengecek lab Cak Nun, tetapi hasilnya tetap sama.


Akhirnya Eddy memutuskan untuk melakukan radionuklir dan men-scan tiroid Cak Nun.


“Hasilnya ini sangat toxic. Ini umurnya kira-kira tiga bulan lagi,” ujar Eddy.


Pada suatu malam, Cak Nun buang air besar. Tinjanya saat itu berwarna hitam pekat dan sangat kental. 


Seorang sahabat yang bernama Pakde pun inisiatif mengambil sampel tinja tersebut.


Tinja itu dimasukkan ke dalam kantong film dan malam harinya tiba-tiba saja kantong berisi tinja Cak Nun meledak. 


Hal ini menurut Eddy sangatlah aneh hingga akhirnya sisa tinja itu dianalisis di lab.


“(Tinja) mengandung sebuah logam yang hanya bisa meleleh dengan suhu di atas 1500 derajat celcius. Berarti ada sesuatu di diri Cak Nun. Ada logam. Ada toxic,” beber Eddy yang kemudian menirukan komentar Prof. Asdi yang seolah tak percaya kala itu.


“Kalo seperti ini sampeyan sudah mati Cak,” tirunya.


“Perut saya itu isinya uranium. Pokoknya logam-logam berat dan panas,” kata Cak Nun.


Nah, karena sudah tahu apa yang menimpa Cak Nun, Novia Kolopaking kemudian memintanya mengambil langkah antisipasi.


“Akhirnya saya antisipasi. Saya minta kepada Allah. Dalam beberapa jam suatu malam saya upacara, saya sembuh. Paginya saya sehat walafiat. Yang bingung orang UGM karena mereka sudah klaim usia saya tinggal tiga bulan. Itu resmi di RS Sardjito,” cerita Cak Nun.


“Saya ditanya gimana caranya bisa sembuh? Caranya adalah sesuatu yang anda tidak percaya,” tandas Cak Nun yang masih enggan menceritakan cara ia bisa sembuh dari serangan santet mematikan. [Democrazy/trk]