Heran Rakyat Ributkan Vaksinasi Berbayar, Tokoh NU: Orang Mampu Beli Kok Jadi Masalah! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 12 Juli 2021

Heran Rakyat Ributkan Vaksinasi Berbayar, Tokoh NU: Orang Mampu Beli Kok Jadi Masalah!

Heran Rakyat Ributkan Vaksinasi Berbayar, Tokoh NU: Orang Mampu Beli Kok Jadi Masalah!

Heran Rakyat Ributkan Vaksinasi Berbayar, Tokoh NU: Orang Mampu Beli Kok Jadi Masalah!

DEMOCRAZY.ID - Terkait polemik vaksin berbayar atau Vaksinasi Gotong Royong (VGR) individu, anggota Komisi VI DPR sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Nusron Wahid ikut angkat bicara. 


Melalui keterangan tertulis di akun jejaring media sosial miliknya, ia mempertanyakan mengapa publik harus menghebohkan dan mempersoalkan program vaksinasi mandiri tersebut yang notabene dikenakan tarif rupiah alias berbayar.


Nusron Wahid juga  memaparkan, memang sebenarnya ada dua penugasan terkait vaksinasi di Indonesia.


Yang pertama, sebutnya, adalah vaksin gratis dikelola Biofarma dan dibagikan ke rakyat secara umum. 


Selanjutnya, yang kedua adalah vaksin Gotong Royong berbayar dan didistribusikan langsung Kimia Farma, Indofarma, serta perusahaan farmasi yang mendapat izin dari lembaga pemerintah terkait.


“Bukankah memang ada dua penugasan. Vaksin gratis yang dikelola oleh Biofarma. Ini yang didedikasikan untuk rakyat secara umum. Gratis. Pelaksanaanya masif sampai Puskesmas dan lapis masyarakat,” terang Nusron Wahid di Jakarta, Senin 12 Juli 2021.


“Kedua vaksin gotong royong berbayar. Diperuntukkan bagi siapa saja yang bersedia. Pelaksananya Kimia Farma, Indofarma dan perusahaan farmasi apa saja yg bisa mendatangkan vaksin yang dapat lesensi dari BPOM. Yang menentukan harga Menkes. Adas dasar masukan dan pertimbangan dari BPKP,” imbuhnya.


Sebenarnya, jelas Nusron Wahid, vaksinasi berbayar tersebut bakal diberlakukan untuk kalangan tertentu, yaitu bagi mereka yang mampu membelinya sehingga tidak membebankan anggaran negara.


“Inilah dimensi keadilan. Masak direktur BUMN dan profesional lainnya yang gajinya ratusan juta, disubsidi vaksin oleh negara. Biarkan subsidi itu dinikmati oleh mayoritas rakyat yang berhak. Saya kira ini fair. Sepanjang tidak mengganggu pelayanan vaksin gratis untuk rakyat,” terangnya.


Nusron juga mengungkapkan keheranannya lantaran keadilan semacam itu justru disalahpahami sejumlah orang. 


Padahal vaksin bakal dibagikan secara merata dan pemerintah tidak akan mungkin memungut biaya vaksin bagi rakyat menengah ke bawah.


“Terus di mana anehnya dan salahnya? Wong orang mampu beli vaksin kok dipersoalkan. Kecuali semua vaksin dijual itu salah. Apalagi kalau dijual kepada orang miskin lebih salah lagi. Justru dengan adanya vaksin gotong royong individual, ada akselarasi vaksin,” ujarnya


Lebih lanjut, Nusron justru merasa aneh apabila ada sekelompok orang yang berpenghasilan tinggi, namun masih mengharapkan vaksin gratis dari pemerintah.


“Bukankah itu jatahnya orang kecil yang berpenghasilan rendah? Saya kira inilah salah satu cara kita membantu negara di tengah kesusahan. Minimal tidak mau membebani APBN,” papar Nusron.


“Bravo Kimia Farma. Lanjutkan dan percepat vaksin gotong royong untuk kalangan yang mau bayar. Bravo Bio Farma. Lanjutkan dan percepat vaksin gratis yang dibiayai APBN. Semoga semua rakyat Indonesia tervaksin. Tidak terkecuali. Yang kaya bayar. Yang tidak mampu, gratis. Silakan pilih,” tutup Nusron. [Democrazy/spa]